Pengamat: Demokrat Kuasai Kongres, Kebijakan Domestik AS Terancam Buntu

kompas.tv
2 jam lalu
Cover Berita
Para pendukung bersorak dalam acara malam pemilu untuk kandidat Partai Demokrat dari Maine, Troy Jackson, Rabu, 4 November 2026, di Portland, Maine, Amerika Serikat. (Sumber: Foto AP/Robert F. Bukaty)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) sudah di ambang pintu. Meski hasil resmi dari pemerintah belum diumumkan, namun Associated Press dan CNN sudah menyatakan kemenangan Partai Demokrat di Kongres AS.

Dengan dikuasainya Kongres oleh Partai Demokrat, pengambilan kebijakan di masa yang akan datang diperkirakan akan memicu kebuntuan politik, dalam dua tahun terakhir pemerintahan Presiden Donald Trump. 

Kondisi ini terjadi karena Partai Republik masih menguasai Gedung Putih dengan Donald Trump sebagai presiden, sementara Demokrat akan mengambil alih kendali Kongres.

Pengamat hubungan internasional sekaligus Ketua Program Doktor Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Djayadi Hanan, menilai hasil pemilu sela kali ini merupakan bentuk penolakan masyarakat AS terhadap kepemimpinan Trump.

Menurut Djayadi, kemenangan Demokrat bahkan dapat disebut sebagai blue tsunami, bukan sekadar blue wave. Blue wave sendiri merujuk pada istilah politik di AS untuk menggambarkan kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu. 

“Di tingkat Senat sejauh ini sudah 53 kursi dimiliki Demokrat. Di tingkat House atau DPR, Demokrat bisa saja menguasai sekitar 250 kursi dari 435 kursi. Jadi jelas pemilu sela ini merupakan referendum penolakan masyarakat Amerika terhadap kepemimpinan Donald Trump,” kata Djayadi kepada Kompas.tv, Rabu (4/11).

Baca Juga: Demokrat Rebut Senat AS di Pemilu Sela, Trump Ancam Gunakan Veto

Djayadi menjelaskan, sedikitnya ada empat faktor yang mendorong kemenangan Demokrat. Pertama, persoalan ekonomi dan biaya hidup yang semakin membebani masyarakat AS.

Menurut dia, janji memperbaiki perekonomian merupakan salah satu andalan utama Trump saat kembali memimpin AS. Namun, masyarakat justru menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) yang semakin menekan kehidupan sehari-hari.

“Masalah ekonomi dan biaya hidup terasa makin menyulitkan masyarakat Amerika. Mereka marah, dan kemarahan itu dialamatkan kepada Partai Republik serta para kandidatnya dalam pemilu sela ini,” ujarnya.

Penolakan Masyarakat terhadap Perang AS dengan Iran

Faktor kedua adalah penolakan masyarakat terhadap perang AS dengan Iran. Djayadi mengatakan, perang tersebut sejak awal tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat Amerika.

Ia menyebut sejumlah survei menunjukkan lebih dari 60 persen warga AS menilai perang dengan Iran sebagai kebijakan yang keliru. Selain itu, lebih dari 74 persen pemilih menyatakan persoalan perang turut memengaruhi pilihan mereka dalam pemilu sela.

Faktor ketiga adalah tingginya sentimen anti-petahana, terutama terhadap Trump dan Partai Republik. Djayadi menyebut tingkat kepuasan terhadap Trump menjelang pemilu berada di kisaran 30-32 persen.

Sementara itu, faktor keempat adalah keberhasilan Demokrat memobilisasi pemilih yang tidak puas dengan kondisi negara untuk datang ke tempat pemungutan suara. Tingginya partisipasi, termasuk melalui pemungutan suara lebih awal atau early voting, dinilai turut menguntungkan Demokrat.

Baca Juga: Pemilu Sela AS Jadi Ujian Trump, Demokrat Berpeluang Rebut Kendali Kongres

Djayadi menilai kemenangan Demokrat akan menghasilkan pemerintahan terbelah atau divided government. Dalam situasi ini, presiden berasal dari Partai Republik, sedangkan Kongres dikuasai Demokrat.

Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan pemerintah dalam menyepakati dan menjalankan berbagai kebijakan domestik. 

Perbedaan kepentingan antara Gedung Putih dan Kongres dapat memicu kebuntuan atau deadlock dalam pembahasan kebijakan.

“Donald Trump terang-terangan menyatakan bahwa kalau Partai Republik kalah, dia akan banyak menggunakan hak veto. Artinya, pemerintahan selama dua tahun ke depan akan sulit mengambil dan melaksanakan kebijakan-kebijakan penting untuk rakyat Amerika,” kata Djayadi.

Menurut dia, situasi politik tersebut dapat membuat agenda pemerintahan Trump pada sisa masa jabatannya semakin sulit dijalankan, terutama jika presiden dan Kongres terus berseberangan.

Baca Juga: Demokrat Rebut Kendali Kongres AS, Trump akan Hadapi Perlawanan di Dua Tahun Terakhir

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Tussie Ayu Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV

Tag
  • demokrat
  • kongres
  • domestik
  • AS
  • djayadi hanan
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengajian Tak Biasa di Sultra, Pendakwah Ceramah 90 Menit dari Dalam Kubur
• 12 jam laludetik.com
thumb
Kasus Penyadapan Presiden Prabowo, Jenderal Listyo Sigit dan 2 Tersangka Lain Ditahan
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Mako Brimob Kelapa Dua Depok Didatangi Rombongan Mobil Rantis di Tengah Isu Penangkapan Jenderal L
• 22 jam laludisway.id
thumb
DBH Migas Bojonegoro: Antara Investasi SDM dan Tantangan Akuntabilitas
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Wamensos Apresiasi Bupati Sidrap Sediakan Lahan untuk Rumah Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat
• 1 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.