Jakarta: Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Zannuba Arifah Chafsoh Wahid (Yenny Wahid), menerima mandat sebagai Presiden ASEAN Confederation of Women’s Organizations (ACWO), konfederasi organisasi perempuan se-Asia Tenggara periode 2027–2029. Penyerahan tongkat kepemimpinan dari Vietnam kepada Indonesia berlangsung di Hanoi, Vietnam, Rabu, 4 November 2026.
Momentum ini menandai babak baru kepemimpinan perempuan Indonesia di tingkat regional sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi dan kerja sama organisasi perempuan ASEAN. ACWO merupakan wadah kerja sama organisasi perempuan di kawasan Asia Tenggara yang pembentukannya pada 1981 turut diprakarsai oleh KOWANI dan merupakan ekosistem dari ratusan juta perempuan di Asia Tenggara.
“Ini adalah kehormatan dan p mal kepercayaan kepada perempuan Indonesia. Kita ingin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia bukan hanya mampu memimpin di tingkat nasional, tetapi juga ikut menentukan arah masa depan Asia Tenggara,” ujar Yenny melalui keterangan tertulis, Kamis, 5 November 2026. 6 Program Prioritas Kepemimpinan Yenny Wahid Dalam kepemimpinannya, Yenny akan mendorong enam agenda strategis untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dihadapi perempuan serta keluarga di Asia Tenggara.
- Care for the Elderly (Perlindungan dan Kesejahteraan Lansia)
Kerja sama ASEAN akan diarahkan pada pertukaran praktik, baik dalam perawatan lansia berbasis keluarga dan komunitas.
- Financial Inclusion (Inklusi Keuangan Perempuan)
- Climate Action & Green Livelihoods (Aksi Iklim dan Ekonomi Hijau)
Baca Juga :
KOWANI Sambut SK Menteri Hukum, Perkuat Agenda Pemberdayaan PerempuanMemperkuat peran perempuan dalam menghadapi perubahan iklim. Sekaligus menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan melalui ekonomi sirkular, pengelolaan sampah, pertanian ramah lingkungan, serta pengembangan usaha hijau berbasis komunitas.
- Digital Literacy (Literasi dan Pemberdayaan Digital)
- No Child Left Behind (Tidak Ada Anak yang Tertinggal)
- Protection for Women and Children (Perlindungan Perempuan dan Anak)
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Zannuba Arifah Chafsoh Wahid (Yenny Wahid). Foto: Instagram @yennywahid.
Yenny menegaskan kepemimpinan ACWO harus menghasilkan dampak nyata, bukan sekadar memperbanyak pertemuan internasional. Dia menginginkan kerja sama tersebut menyentuh kehidupan masyarakat.
"Mulai dari seorang nenek yang membutuhkan perawatan, seorang ibu yang membutuhkan modal usaha, hingga seorang anak yang terancam putus sekolah. Mereka semua harus menjadi bagian dari perhatian kita,” tegas Yenny.
Menurut Yenny, tantangan masa depan ASEAN tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana kawasan ini memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal.
“ASEAN tidak akan benar-benar maju apabila perempuan masih kesulitan mengakses kesempatan ekonomi, anak-anak kehilangan kesempatan pendidikan, dan para lansia harus menghadapi masa tua tanpa perlindungan yang memadai,” sebut Yenny. Memperkuat Diplomasi Perempuan Indonesia Kepemimpinan ACWO periode 2027–2029 juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat kembali peran historisnya dalam gerakan perempuan internasional. KOWANI memiliki sejarah panjang sejak Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928, menjadi anggota International Council of Women sejak 1973, dan turut memprakarsai pembentukan ACWO pada 1981.
Yenny menyampaikan apresiasi kepada Vietnam atas kepemimpinannya pada periode sebelumnya. Dia berkomitmen untuk memperkuat solidaritas antarorganisasi perempuan di kawasan.
“Kita ingin membangun ASEAN yang bukan hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. ASEAN yang menghormati para lansianya, melindungi perempuan dan anak-anaknya, serta memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang," ujar Yenny
“Karena ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa tinggi gedung yang dibangun atau seberapa cepat ekonominya tumbuh, tetapi juga bagaimana bangsa itu memperlakukan mereka yang paling rentan,” imbu Yenny.




