Klasterku Hidupku BRI Bantu Petani Alpukat Sumberejo Jangkau Pasar Lebih Luas

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Alpukat menjadi salah satu komoditas unggulan yang menopang perekonomian petani di Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Kualitas buah yang dikenal memiliki daging lembut dan kaya rasa membuat alpukat dari wilayah ini diminati konsumen. Potensi tersebut membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan melalui pemasaran yang lebih luas.

Namun, peningkatan hasil panen juga menghadirkan tantangan tersendiri. Saat musim panen raya, pasokan alpukat dari kebun warga meningkat hampir bersamaan. Petani pun membutuhkan jaringan pembeli yang lebih luas agar hasil panen dapat terserap dengan baik dan tidak kehilangan nilai jual.

Kondisi tersebut mendorong Prayitno, salah satu penggerak kelompok tani alpukat di Sumberejo, untuk membangun jaringan pemasaran bersama petani di sekitarnya. Berbekal pengalamannya sebagai petani, ia memahami bahwa keberhasilan usaha pertanian tidak berhenti pada proses budi daya, tetapi juga bergantung pada kemampuan menjual hasil panen.

“Saya berangkat dari petani, jadi paham betul tantangannya. Petani sudah menanam, merawat, lalu ketika panen yang dipikirkan berikutnya ya bagaimana hasil ini bisa terjual dengan baik. Karena itu kami coba berkembang bersama, merangkul petani di sekitar supaya hasil panennya bisa sama-sama kita pasarkan,” cerita Prayitno, dikutip Sabtu (8/11).

Prayitno kemudian mulai menghimpun hasil panen dari sejumlah petani untuk dipasarkan ke pasar induk. Upaya tersebut secara bertahap berkembang menjadi jaringan pemasaran yang melibatkan lebih banyak petani di lingkungannya.

Dalam perjalanannya, ia menyadari kebutuhan petani juga mencakup dukungan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan budi daya. Sebab, petani membutuhkan modal untuk merawat kebun dan mempersiapkan produksi pada musim berikutnya.

Untuk membantu menjaga kegiatan usaha tetap berjalan, Prayitno sesekali memberikan dukungan modal kepada petani yang menjadi mitranya.

“Kalau ada petani yang butuh modal, kadang kami bantu. Karena kalau petaninya bisa terus jalan, hasilnya juga bisa terus kami pasarkan bersama. Jadi memang kami tumbuhnya dari lingkungan sendiri,” imbuhnya.

Pola kemitraan tersebut membuat kegiatan usaha alpukat di Sumberejo berkembang dengan saling menopang. Petani dapat berfokus pada perawatan kebun dan kualitas buah, sementara Prayitno mengembangkan jaringan pemasaran untuk memperluas penyerapan hasil panen.

Seiring bertambahnya jumlah petani yang terlibat, perluasan pasar menjadi salah satu fokus pengembangan usaha. Jaringan pembeli yang lebih luas diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kelompok dalam menyerap hasil panen sekaligus menjaga perputaran modal usaha.

Peluang pengembangan tersebut semakin terbuka setelah kelompok tani yang dikelola Prayitno terhubung dengan program Klasterku Hidupku dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Kerja sama ini bermula ketika BRI melakukan survei kepada kelompok tani dan membuka peluang untuk menjalin kemitraan.

Melalui program tersebut, kelompok tani memperoleh kesempatan untuk memperkuat pengembangan usaha dan memperluas jaringan pemasaran. Akses pasar menjadi salah satu aspek penting bagi petani karena menentukan kemampuan mereka dalam menjual hasil kebun kepada lebih banyak pembeli.

Dampak perkembangan usaha itu mulai terlihat dari peningkatan omzet dan penjualan. Prayitno memperkirakan pertumbuhan keduanya mencapai sekitar 30%.

Peningkatan tersebut turut membuka peluang bagi kelompok untuk menampung lebih banyak hasil panen petani. Dengan jaringan pemasaran yang semakin berkembang, usaha yang semula dijalankan dari lingkungan sendiri kini memberikan kesempatan ekonomi bagi lebih banyak warga di Sumberejo.

Terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, melalui program Klasterku Hidupku, BRI terus mendorong kelompok usaha berbasis potensi lokal agar semakin kuat dari sisi kapasitas usaha, jaringan, dan akses pasar.

“Potensi ekonomi daerah akan semakin kuat ketika pelaku usaha di dalamnya dapat tumbuh bersama. Dengan demikian, pengembangan klaster tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga bagaimana membuka akses pasar, memperkuat jaringan usaha, dan menciptakan lebih banyak peluang agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan masyarakat di sekitarnya,” ujar Dhanny.

Hingga September 2026, BRI telah mengembangkan lebih dari 45 ribu klaster usaha di berbagai daerah melalui program Klasterku Hidupku. Program ini menjadi bagian dari upaya perseroan dalam membangun ekosistem usaha produktif berbasis komunitas dengan mengoptimalkan potensi ekonomi di berbagai wilayah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polri Bentuk Tim Khusus untuk Telusuri Pemberi Perintah Penyadapan Ilegal terhadap Presiden Prabowo
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Diego Simeone Menegaskan Kesiapan Julian Alvarez Jelang Laga Kontra Barcelona
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
De Red FC Kalahkan PSBS 4-0, Fellipe Veloso Borong Empat Gol
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Byeon Woo Seok Bikin Heboh Fan Meeting Jakarta, Turun Panggung hingga Hibur Fans dari Dekat
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
9 Pemain PSM Makassar Imbangi Borneo FC 1-1, Mufli Hidayat dan Stefan Jevtoski Diganjar Kartu Merah
• 20 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.