MerahPutih.com - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai rangkaian bencana yang terjadi di Sumatra bagian utara merupakan tanda nyata bahwa Indonesia tengah menghadapi krisis iklim sekaligus krisis lingkungan.
Ia menuturkan bahwa peningkatan suhu yang signifikan di berbagai kota besar serta perubahan pola cuaca yang tak menentu menjadi indikasi kuat terjadinya perubahan iklim di Tanah Air.
Eddy mencontohkan sejumlah bencana yang belakangan melanda berbagai wilayah, mulai dari banjir, hujan deras di musim kemarau, tanah longsor, hingga banjir bandang di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Menurutnya, deretan kejadian tersebut menggambarkan betapa seriusnya krisis iklim yang kini dihadapi Indonesia.
“Ini juga akibat perilaku kita yang tidak menghormati lingkungan hidup. Terutama pembalakan hutan dan pengambilan pasir yang masif,” ujar Eddy kepada wartawan di Jakarta, dikutip Minggu (30/11).
Baca juga:
Video Kayu Gelondongan di Arus Banjir Sumut Ramai di Medsos, DPR: Perlu Investigasi dan Tindakan Tegas
Ia juga menyoroti alih fungsi lahan secara besar-besaran untuk perumahan dan kawasan industri yang merusak keseimbangan lingkungan.
“Fenomena tersebut harus menjadi alarm agar pemerintah dan masyarakat segera melakukan pembenahan,” tambahnya.
Eddy mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk bertindak tegas terhadap para pelaku perusakan lingkungan, mulai dari pembalak liar hingga perusahaan atau individu yang mencemari tanah dan air.
“Alarm ini harus direspons cepat agar kita bisa mencegah bencana-bencana berikutnya,” ujarnya.
Baca juga:
Dugaan Kerusakan Alam, DPR Akan Panggil Kemenhut Bahas Banjir dan Longsor di Sumatra Utara
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban tewas akibat bencana di Sumatra bagian utara mencapai 303 jiwa.
- Sumatra Utara: 166 korban meninggal dunia, 143 orang masih hilang. Dampak terbesar terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.
- Aceh: 47 korban meninggal dunia, 51 orang hilang, 8 orang luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga, dengan sebaran tertinggi di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.
- Sumatra Barat: 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 orang luka-luka. Kabupaten Agam mencatat jumlah korban tertinggi di provinsi tersebut.
(Knu)