JAKARTA – Apple bergabung dalam barisan bantuan internasional setelah kebakaran hebat menghancurkan kompleks apartemen Wang Fuk Court di Distrik Tai Po, Hong Kong. Kebakaran yang terjadi pada Rabu 26 November itu menghanguskan tujuh blok hunian dan menewaskan sedikitnya 120 orang. Lebih dari 200 penduduk masih dilaporkan hilang, menjadikannya salah satu tragedi kebakaran paling mematikan di kota tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Pada Jumat, 28 November, CEO Apple, Tim Cook, menyampaikan pernyataan melalui platform X bahwa perusahaannya akan memberikan donasi untuk mendukung upaya penyelamatan dan pemulihan di lapangan. Gaya Cook tetap kalem seperti biasanya, namun pesannya membawa bobot besar di tengah situasi yang penuh duka.
Kompleks Wang Fuk Court merupakan hunian berlantai 31 yang menaungi lebih dari 4.000 orang, sebagian besar lansia. Kompleks ini terdiri atas delapan blok apartemen tinggi yang berdiri berdekatan, sehingga kebakaran cepat meluas sebelum pemadam kebakaran berhasil mencapai seluruh titik kritis.
Laporan otoritas kebakaran Hong Kong mengungkapkan alarm kebakaran di seluruh blok tidak berbunyi ketika insiden terjadi. Jaringan keamanan yang gagal itu menimbulkan kemarahan publik, terlebih setelah polisi melakukan setidaknya sepuluh penangkapan dengan dugaan pembunuhan akibat kelalaian berat. Investigasi diperkirakan berlangsung panjang, mengingat jumlah korban yang besar dan kerusakan struktural yang harus dievaluasi ulang.
Di tengah suasana tegang itu, janji donasi dari Apple menambah dorongan moral. Bantuan dari perusahaan teknologi raksasa diharapkan membantu penyediaan kebutuhan mendesak seperti tempat penampungan sementara, logistik medis, dan dukungan bagi keluarga korban yang masih mencari anggota keluarga mereka.
Tragedi di Tai Po membuka kembali diskusi tentang kesiapan infrastruktur hunian bertingkat di kota padat seperti Hong Kong, terutama soal sistem alarm, jalur evakuasi, dan pengawasan gedung. Di balik semua angka korban dan laporan investigasi, ada ribuan cerita kehilangan dan keluarga yang menggantungkan harapan pada proses pencarian.
Bantuan global yang terus berdatangan menunjukkan bahwa bahkan di kota sepadat Hong Kong, solidaritas masih bisa menembus puing, asap, dan berita buruk yang terus mengalir.