Mengapa Muncul ”Super Flu”?

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Fenomena ”super flu” yang ramai diperbincangkan masyarakat sebenarnya merujuk pada virus influenza tipe A subvarian H3N2 dengan subclade K. Istilah ini muncul bukan karena terminologi medis resmi, melainkan sebagai respons terhadap kecepatan penularannya yang sangat tinggi, di mana satu orang terinfeksi dapat menulari dua hingga tiga orang lainnya. Meskipun sangat menular, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa tingkat keparahan gejala varian ini masih serupa dengan flu musiman dan situasinya di Indonesia tetap terkendali.

Kenaikan kasus influenza yang mencapai 38 persen pada akhir tahun 2025 dipicu oleh kombinasi faktor perubahan musim hujan, suhu dingin, dan polusi udara yang mempercepat penularan infeksi saluran pernapasan. Untuk mencegah penyebaran, masyarakat sangat dianjurkan untuk memperkuat daya tahan tubuh melalui gaya hidup sehat dan melakukan vaksinasi influenza secara rutin setiap satu tahun sekali. Langkah ini sangat krusial bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil guna mencegah komplikasi berat seperti pneumonia atau gagal organ.

Apa yang Anda dapatkan dari artikel ini?

  1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah "super flu"?
  2. Mengapa kasus penularan influenza meningkat drastis belakangan ini?
  3. Mengapa gejala flu saat ini terasa lebih lama untuk sembuh?
  4. Bagaimana langkah efektif untuk mencegah dan menangani "super flu"?
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah "super flu"?

Istilah "super flu" sebenarnya tidak dikenal dalam terminologi medis resmi. Nama ini muncul secara populer di masyarakat karena varian virus influenza yang sedang beredar memiliki kecepatan penularan yang sangat tinggi. Satu orang yang terinfeksi dilaporkan dapat menulari minimal dua hingga tiga orang atau lebih di sekitarnya.

Secara ilmiah, virus yang dijuluki "super flu" ini diidentifikasi sebagai influenza tipe A subvarian H3N2 dengan subclade K. Subclade K merupakan varian baru yang pertama kali teridentifikasi oleh CDC Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan kini telah menyebar di setidaknya 80 negara. Di Indonesia, varian ini mulai terdeteksi sejak Agustus 2025.

Meskipun penularannya sangat masif, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa tingkat keparahan gejala yang ditimbulkan oleh influenza A subclade K ini masih serupa dengan flu musiman. Gejala yang muncul umumnya meliputi demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Kondisi di Indonesia saat ini dinyatakan masih terkendali dan tidak menunjukkan dampak yang lebih fatal dibandingkan varian sebelumnya.

Baca JugaMengenal ”Super Flu” yang Mudah Menular
Mengapa kasus penularan influenza meningkat drastis belakangan ini?

Peningkatan kasus influenza yang signifikan, yang mencapai angka 38 persen pada awal Oktober 2025, sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan musim. Penularan virus influenza cenderung meningkat saat suhu udara menjadi lebih dingin, terutama ketika memasuki musim hujan. Pola musiman ini merupakan siklus tahunan yang biasanya berlangsung hingga awal tahun berikutnya.

Selain faktor alam, kondisi lingkungan dan aktivitas sosial turut mempercepat penyebaran. Kepadatan orang di luar rumah serta paparan polusi udara yang buruk dapat memperburuk risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Interaksi yang tinggi antarindividu di ruang publik mempermudah droplet berisi virus berpindah dari satu orang ke orang lain.

Teori lain yang mendasari lonjakan kasus ini adalah adanya mutasi virus yang terus berkembang. Virus influenza memiliki kemampuan mutasi yang sangat cepat sehingga muncul subvarian baru seperti subclade K yang lebih adaptif untuk menular. Selain itu, peningkatan angka kasus juga dipengaruhi oleh kemampuan deteksi fasilitas kesehatan yang kini semakin baik dalam mengidentifikasi virus melalui tes PCR atau whole genome sequencing (WGS).

Baca Juga62 Kasus ”Super Flu” Ditemukan di Indonesia, Kemenkes: Kondisi Masih Terkendali
Mengapa gejala flu saat ini terasa lebih lama untuk sembuh?

Banyak pasien mengeluhkan bahwa gejala flu yang mereka alami terasa bertahan lebih lama dari durasi normal 3-5 hari. Salah satu penyebab utamanya adalah penurunan imunitas tubuh. Jika daya tahan tubuh tidak dalam kondisi optimal, sistem imun tidak mampu melawan virus secara efektif, sehingga proses penyembuhan menjadi lebih lambat.

Faktor gaya hidup seperti kelelahan kronis, kurang tidur, dan stres yang tidak terkelola dengan baik juga berkontribusi pada lamanya gejala bertahan. Selain itu, seseorang yang baru saja sembuh dari penyakit lain biasanya memiliki sistem kekebalan yang masih lemah, membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi influenza yang berkepanjangan.

Terdapat pula kaitan dengan fenomena long Covid bagi mereka yang pernah terinfeksi virus korona sebelumnya. Infeksi Covid-19 di masa lalu dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh jangka panjang, sehingga saat tubuh terpapar virus influenza, gejala yang dirasakan menjadi lebih berat atau durasinya lebih panjang dari biasanya.

Baca JugaWaspada Gejala Flu yang Tak Kunjung Sembuh
Bagaimana langkah efektif untuk mencegah dan menangani "super flu"?

Langkah pencegahan yang paling utama adalah dengan memperkuat protokol kesehatan individu dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS). Masyarakat diimbau untuk rajin mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, serta menggunakan masker di tempat kerumunan atau saat merasa kurang sehat. Masker berfungsi ganda: melindungi diri sendiri sekaligus mencegah penularan ke orang lain.

Upaya perlindungan medis yang sangat disarankan adalah melakukan vaksinasi influenza secara rutin setahun sekali. Karena virus influenza terus bermutasi, vaksin perlu diperbarui setiap tahun untuk menyesuaikan dengan varian virus yang diprediksi akan beredar. Vaksinasi ini sangat krusial bagi kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak, lansia, wanita hamil, dan orang dengan penyakit kronis.

KOMPAS

Jika gejala muncul, penting untuk segera beristirahat dan tidak memaksakan aktivitas di luar rumah. Apabila kondisi memburuk atau tidak membaik dalam tiga hari, segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Untuk penanganan medis, terdapat beberapa obat antivirus yang direkomendasikan untuk pengobatan dini sesuai anjuran tenaga medis.

Baca JugaKasus Influenza di Indonesia Naik 38 Persen, Diperkirakan Terus Meningkat hingga Awal Tahun Depan

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Fenomena Sudden Travel, Perubahan Perjalanan Liburan yang Mengubah Industri Pariwisata
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Persoalan ekonomi China 2025 yang menanti jawaban
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Warga Jakarta Donasi Rp3,1 M untuk Sumatera di Malam Tahun Baru, Pramono Ucapkan Terima Kasih
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
UII Soroti Isu HAM dan Tata Kelola dalam Refleksi Akhir Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
SIP Law Firm Perkuat Cross-Border Legal Services
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.