Grid.ID - Tahun baru identik dengan pesta meriah, kembang api, dan hitung mundur yang penuh sorak sorai. Namun, bagi Prilly Latuconsina, pergantian tahun kali ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya, ia merayakan tahun baru di Jepang, jauh dari hiruk-pikuk perayaan yang biasa ia temui.
Melalui akun Instagram pribadinya, Prilly membagikan pengalamannya merayakan tahun baru dengan cara yang lebih tenang dan penuh makna. Ia menuliskan bahwa tidak ada kembang api, tidak ada teriakan hitung mundur, dan tidak ada keramaian yang berlebihan. Justru, yang ia rasakan adalah ketenangan yang jarang ia temui dalam momen pergantian tahun.
"Tahun baru kali ini rasanya berbeda. Untuk pertama kalinya, kami merayakan tahun baru di Jepang. Tanpa kembang api. Tanpa hitung mundur yang riuh," tulis Prilly Latuconsina yang dikutip Grid.ID melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat (2/1/2026).
Pada malam sebelum tahun baru, Prilly bersama sang kekasih, Omara Esteghlal berjalan pelan menuju Zojoji Temple. Suasana di sekitar terasa sunyi, tertib, dan penuh rasa hormat. Orang-orang tidak terburu-buru. Mereka berjalan dengan langkah tenang, seolah memahami bahwa momen ini bukan untuk dirayakan dengan kebisingan, melainkan dengan kesadaran.
"Malam sebelum pergantian tahun, orang-orang berjalan pelan menuju Zojoji Temple. Sunyi, tertib, dan penuh rasa hormat,"
Setibanya di kuil, orang-orang mulai berdoa. Ada yang memohon keberuntungan, ada pula yang menuliskan harapan untuk tahun yang akan datang. Prilly juga ikut menuliskan harapannya pada kayu kecil yang biasa digunakan dalam tradisi Jepang.
Kayu itu kemudian digantung bersama harapan-harapan lain, seakan menjadi tempat menitipkan isi hati dengan penuh ketenangan dan kejujuran.
"Di sana orang-orang berdoa. Mengambil keberuntungan dan menuliskan harapan," tulis Prilly.
"Kami ikut menuliskan harapan di kayu kecil ini, lalu menggantungkannya, seolah menitipkan isi hati dengan tenang," sambungnya.
Di sekitar area kuil, terdapat stall-stall kecil yang menjual makanan kaki lima. Orang-orang makan sambil mengobrol pelan, tanpa tergesa-gesa. Tidak ada suasana pesta yang berlebihan. Semuanya terasa sederhana, namun justru menghadirkan kehangatan yang sulit dijelaskan. Dalam kesederhanaan itu, Prilly merasakan kedekatan antar manusia yang tulus.
"Ada stall-stall kecil yang menjual makanan kaki lima. Orang makan, mengobrol pelan, menghabiskan waktu tanpa tergesa. Semua terasa sederhana, tapi hangat," jelas Prilly.
Momen paling berkesan datang saat terdengar bunyi lonceng. Tradisi Joya no Kane pun dimulai. Lonceng dibunyikan sebanyak 108 kali, sebagai simbol melepaskan 108 nafsu duniawi. Tradisi ini dipercaya dapat membersihkan jiwa dan menyambut tahun baru dengan hati yang lebih bersih. Setiap bunyi lonceng terasa pelan, dalam, dan menenangkan.
"Lalu terdengar bunyi lonceng. Tradisi Joya no Kane, lonceng dibunyikan 108 kali, sebagai simbol melepaskan 108 nafsu duniawi dan menyambut tahun baru dengan jiwa yang lebih bersih," ungkapnya.
Dari pengalaman tersebut, Prilly menyadari satu hal penting. Merayakan tahun baru tidak selalu harus heboh. Tidak selalu tentang suara keras dan pesta besar. Kadang, makna justru hadir saat kita diam, menenangkan pikiran, dan benar-benar mendengarkan diri sendiri.
"Kami baru sadar, merayakan tidak selalu harus heboh. Kadang, maknanya justru hadir saat kita diam... dan benar-benar mendengarkan diri sendiri," tulis Prilly.
Tahun baru kali ini mengajarkan Prilly bahwa yang paling penting bukanlah bagaimana perayaannya dilakukan, melainkan kesiapan batin untuk memulai kembali. Memulai dengan harapan yang lebih jujur, tanpa tuntutan berlebihan, dan dengan hati yang lebih tenang.
"Tahun baru kali ini mengajarkanku satu hal: yang paling penting bukan suara perayaannya, tapi kesiapan batin untuk memulai lagi," tulisnya.
Prilly pun menutup refleksinya dengan doa sederhana. Ia berharap, bukan hanya dirinya, tetapi kita semua bisa memulai tahun yang baru dengan versi diri yang lebih utuh. Lebih sadar, lebih tenang, dan lebih jujur pada apa yang benar-benar kita butuhkan dalam hidup.
"Dengan harapan yang lebih jujur dan hati yang lebih tenang. Semoga kita semua memulai dengan versi diri yang lebih utuh," tutup Prilly Latuconsina. (*)
Artikel Asli



