Semakin Banyak Anak Muda di Tiongkok Mengais Sampah Demi Bertahan Hidup

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Partai Komunis Tiongkok (PKT) gencar mempropagandakan apa yang disebut sebagai “garis pemenggalan Amerika Serikat”, namun pada saat yang sama terungkap bahwa akibat kurangnya bantuan sosial, banyak anak muda yang menganggur mengalami kesulitan hidup. Bahkan terpaksa bergabung dalam barisan orang-orang yang mengais sampah dari tempat pembuangan untuk menyambung hidup.

Seorang warga Kota Zhangzhou, Provinsi Fujian, bermarga Xie, mengungkapkan bahwa dulu yang biasa mengais tempat sampah dan memungut barang bekas adalah para lansia. Kini, karena banyak anak muda tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan kelaparan, mereka juga mulai mengais sampah. Namun demikian, pihak berwenang menutup-nutupi informasi tersebut, sehingga video-video terkait tidak bisa dipublikasikan.

 “Orang-orang yang mengelilingi tempat sampah untuk mencari makanan semakin banyak. Sekarang sudah ada orang berusia 40 tahun yang mengais tempat sampah. Di Tiongkok daratan tidak ada bantuan apa pun. Begitu seseorang menghadapi kesulitan dan terjerumus ke jalan buntu, hidup terasa lebih buruk dari kematian. Sekarang bunuh diri sangat banyak, tapi semuanya ditutup-tutupi dan tidak dilaporkan,” ujar Xie. 

Seorang warganet dari Zhejiang mengunggah video yang menunjukkan bahwa tempat sampah di depan rumahnya setiap hari didatangi gelombang demi gelombang orang yang memungut barang bekas. Ia mengatakan bahwa jika melihat kardus, ia sendiri juga akan memungutnya.

 “Semakin banyak anak muda juga bergabung dalam pekerjaan ini. Bisa dibilang setiap hari setidaknya ada 100 orang yang mengais tempat sampah di sini,” katanya.

Ada pula warga yang melaporkan bahwa banyak orang mengincar tempat sampah di kompleks perumahan. Setiap malam, tempat sampah dibongkar berkali-kali. Kadang-kadang, demi berebut botol plastik, kardus, dan barang bekas lainnya, terjadi pertengkaran.

 “Memungut botol pun sekarang sangat kompetitif. Mereka semua mengais tempat sampah tengah malam. Orang yang menganggur semakin banyak. Di jalanan penuh dengan kendaraan pengantar tanpa pengemudi—bukankah itu merebut mata pencaharian kita? Semua orang menganggur bersama-sama, lalu ‘rebahan’ (pasrah). Tidak berani makan di luar, satu kali makan belasan yuan. Sekarang saya masak sendiri di rumah, satu kali makan cuma 3 yuan,” ujar Warga Kota Qingdao, Provinsi Shandong, Mr Wang.

Seorang perempuan bermarga Liu dari Taiyuan, Provinsi Shanxi, lulusan sarjana universitas kedokteran yang telah tiga tahun lulus, tidak berhasil mendapatkan pekerjaan. Adik laki-laki dan perempuannya masih bersekolah, sementara ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit. Demi merawat ibunya, ia terpaksa mengais barang bekas untuk hidup.

“Saya tidak ingin mengais barang bekas, tapi tidak ada pilihan. Bau sampah itu sangat menjijikkan. Sekarang dokter saja harus lulusan magister atau doktor, bukan sesuatu yang bisa kamu jadi hanya karena mau. Kamu harus terus sekolah. Saya anak tertua di keluarga. Ibu saya terkena trombosis dan tahun ini sudah dua kali operasi. Tidak berutang kepada orang lain saja sudah termasuk sangat beruntung,” ujar warga Taiyuan, Shanxi, Nyonya Liu. 

Seorang pemilik toko barang bekas di Hefei, Provinsi Anhui, bermarga Wu, mengatakan bahwa dulu ia dan suaminya menjalankan toko bersama dan bisa menghasilkan 100.000 hingga 200.000 yuan per tahun, cukup untuk menghidupi keluarga. Namun demikian, beberapa tahun terakhir, perlambatan ekonomi menyebabkan harga barang bekas anjlok dan banyak toko barang bekas terpaksa tutup.

 “Sekarang tidak ada usaha yang benar-benar mudah menghasilkan uang. Botol minuman saya beli seharga 1 yuan, dijual kembali untungnya cuma 0,2 yuan per jin. Sekarang mengumpulkan barang bekas itu sangat sulit, kalau tidak hati-hati malah bisa rugi,” ujar pemilik toko barang bekas Hefei, Nyonya Wu. 

“Sekarang logam mulia dan produk elektronik lebih menguntungkan. Selama mau bekerja keras, pasti lebih baik daripada kerja serabutan. Di industri ini sekarang banyak anak muda, bahkan generasi kelahiran tahun 2000-an juga melakukannya,” jelasnya. 

Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Xiong Bin dan Bai Ni


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
LPSK Nilai KUHAP Baru Perkuat Peran Perlindungan Saksi dan Korban
• 1 jam laludetik.com
thumb
Oh Ternyata, Ini Alasan Prabowo Tidak Tetapkan Banjir Sumatra Jadi Bencana Nasional
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Prabowo Orders Repairs of Flood-Damaged Public Facilities Alongside Shelter Construction
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cara Sukses Menurunkan Berat Badan dengan Pola Makan Bebas Gluten
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
Kuasa Hukum Tegaskan Hubungan Ridwan Kamil dan Atalia Praratya Tak Memburuk
• 5 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.