Ekonom Beberkan Efek Konflik AS-Venezuela ke Rupiah dan Yield SBN

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat. Insiden ini memicu kekhawatiran pasar global mengenai stabilitas pasokan energi hingga dampaknya terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual menilai insiden tersebut berpotensi memantik sentimen negatif, terutama pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Pasalnya, Venezuela merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia dan masuk dalam jajaran 15 besar produsen global.

"Yang paling dikhawatirkan pengaruhnya ke harga minyak. Jika ada sentimen negatif dan harga melonjak, ekspektasi inflasi ke depan juga akan meningkat," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (4/1/2026).

David menjelaskan, kenaikan ekspektasi inflasi global memiliki efek domino terhadap kebijakan moneter. Perkembangan tersebut, sambungnya, dapat mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury sebagai cerminan risiko yang meningkat.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Masalahnya, jika yield obligasi AS merangkak naik maka dampaknya akan merambat ke pasar keuangan domestik.

"Kalau yield obligasi AS meningkat, bisa berpengaruh ke emerging market, termasuk ke yield SBN [Surat Berharga Negara] kita juga," tambahnya.

Baca Juga

  • Siap-Siap! Biaya Logistik & Harga BBM Naik Imbas AS Serang Venezuela
  • Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap AS, Berapa Harta Kekayaannya?
  • PBB Sebut Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Tidak Hormati Hukum Internasional

Selain sisi pasar obligasi, David juga menyoroti risiko terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi domestik. Mengingat posisi Indonesia sebagai net importir minyak dan bahan bakar minyak (BBM), lonjakan harga minyak global akan memberatkan neraca pembayaran.

"Jadi kalau harga petroleum meningkat, itu akan terpengaruh ke kurs [Rupiah]. Kekhawatirannya ke kurs dan inflasi kita juga tentunya," jelas David.

Kendati demikian, David melihat dampak guncangan ini kemungkinan tidak akan berlangsung lama atau bersifat temporer (knee-jerk reaction). Alasannya, fundamental pasar minyak saat ini cenderung mengalami kelebihan pasokan (oversupply) di tengah permintaan global yang melambat.

Dia membandingkan situasi ini dengan konflik Iran-Israel pada Mei 2025 yang memicu lonjakan harga, namun hanya bersifat sementara.

"Untungnya permintaan dunia memang agak melambat. Kalau saya lihat harusnya dampaknya tidak terlampau besar karena dari sisi demand tidak terlampau kuat," ungkapnya.

Meski begitu, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada menanti pembukaan pasar pada Senin (5/1/2026). Reaksi pasar terhadap insiden penangkapan tersebut akan menjadi indikator utama arah pergerakan ekonomi dalam jangka pendek.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
JPU: Nadiem buka jalan eks anggota DPR titip nama pengadaan Chromebook
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Wacana Pilkada Melalui DPRD, Mahar Calon Kepala Daerah Disebut Bisa Lebih Besar
• 3 jam lalugenpi.co
thumb
Nadiem Makarim Sebut Dirinya Lengah Hadapi Perlawanan Kelompok Lama
• 33 menit laludisway.id
thumb
Prabowo Tak Masalah PDIP di Luar Pemerintah, Asal Kerja Sama
• 9 jam laluidntimes.com
thumb
Aturan Baru Purbaya, APBD Pemda Maksimal Minus 2,5%
• 1 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.