Dua orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon Selatan pada Minggu (4/1). Pihak Israel mengeklaim serangan itu menarget seorang anggota Hizbullah.
Dikutip dari AFP, meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama setahun antara Israel dan Hizbullah, Israel kerap melakukan serangan terhadap Lebanon, biasanya dengan mengatakan bahwa mereka menargetkan lokasi dan anggota Hizbullah.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan dua orang tewas dalam "serangan musuh Israel yang menargetkan sebuah kendaraan" di dekat kota Jmaijmeh, sekitar 10 kilometer dari perbatasan.
Namun Israel mengeklaim menyerang target Hizbullah.
"Sebagai tanggapan atas pelanggaran berkelanjutan Hizbullah terhadap kesepakatan gencatan senjata," demikian pernyataan militer Israel.
Di bawah tekanan berat AS dan kekhawatiran akan perluasan serangan Israel, Beirut telah berkomitmen untuk melucuti senjata Hizbullah, yang sangat melemah setelah lebih dari setahun saling serang dengan Israel, termasuk dua bulan perang terbuka yang berakhir dengan gencatan senjata November 2024.
Tentara Lebanon sebelumnya diharapkan menyelesaikan pelucutan senjata di selatan Sungai Litani—sekitar 30 kilometer dari perbatasan dengan Israel—pada akhir tahun 2025, sebelum menangani wilayah lain di negara itu.
Pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengakui di X bahwa pemerintah dan tentara Lebanon telah berupaya melucuti senjata Hizbullah tetapi mengatakan "upaya tersebut masih jauh dari cukup", dengan alasan "upaya Hizbullah untuk mempersenjatai kembali dan membangun kembali kekuatannya, dengan dukungan Iran."
Israel sebelumnya mempertanyakan efektivitas militer Lebanon dan menuduh Hizbullah mempersenjatai diri kembali, sementara kelompok itu sendiri menolak seruan untuk menyerahkan senjatanya.
Setidaknya 350 orang tewas akibat tembakan Israel di Lebanon sejak gencatan senjata, menurut perhitungan AFP berdasarkan laporan kementerian kesehatan Lebanon.




