EtIndonesia. Pada Sabtu (3 Januari) dini hari, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan operasi militer dan menangkap diktator Nicolás Maduro, lalu membawanya pergi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Jaksa Agung Bondi menyatakan bahwa Maduro akan diadili di Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump membandingkan operasi penangkapan Maduro dengan serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Ia mengatakan bahwa operasi ini kemungkinan bahkan lebih rumit. Trump juga mengungkapkan bahwa rencana penyerangan telah disusun sejak empat hari sebelumnya, dan pihak AS terus menunggu kondisi cuaca terbaik. Ketika cuaca tiba-tiba membaik pada hari itu, militer AS segera melancarkan aksi.
Trump mengatakan bahwa saat itu Maduro berada di sebuah “benteng dengan penjagaan sangat ketat” dan “langsung dikepung”, sehingga ia gagal melarikan diri ke rumah lain yang semula hendak ia tuju.
Salah satu helikopter militer AS terkena tembakan cukup parah, namun tidak jatuh. Beberapa tentara AS juga tertembak dan mengalami luka, tetapi seluruh personel dan pesawat berhasil menyelesaikan misi dan kembali dengan selamat.
Beberapa jam sebelum penangkapannya, Maduro sempat menerima kunjungan utusan khusus Partai Komunis Tiongkok, Qiu Xiaoqi, yang kembali menegaskan dukungan dengan menyebut bahwa “Tiongkok dan Venezuela adalah mitra strategis yang telah teruji waktu”. Namun hanya beberapa jam kemudian, peristiwa mengejutkan terjadi—“mitra” tersebut tiba-tiba lenyap, memicu perbincangan hangat di tengah opini publik.
Warga Venezuela yang tinggal di luar negeri pun berkumpul untuk merayakan runtuhnya rezim diktator setelah mendengar kabar penangkapan Maduro.
Presiden AS Donald Trump: “Tidak satu pun tentara Amerika gugur, dan tidak ada satu pun peralatan Amerika yang hilang.”
Trump menegaskan bahwa meskipun menghadapi perlawanan dari tembakan senjata darat, operasi tersebut sangat berhasil.
“Tadi malam hingga pagi hari ini, atas perintah saya, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat melancarkan sebuah operasi militer yang luar biasa di ibu kota Venezuela. Kekuatan militer Amerika yang luar biasa—di udara, di darat, dan di laut—digunakan untuk melancarkan sebuah serangan kilat yang spektakuler. Ini adalah jenis serangan yang belum pernah disaksikan dunia sejak Perang Dunia Kedua,” kata Trump.
Sejak perintah dikeluarkan hingga Maduro berhasil ditangkap oleh militer AS, seluruh operasi memakan waktu sekitar lima jam.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth: “Inilah yang disebut ‘America First’. Inilah yang disebut ‘perdamaian melalui kekuatan’. Kementerian Pertahanan Amerika Serikat merasa terhormat dapat berpartisipasi dan mendorong terwujudnya semua ini.”
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, saat ini ditahan di sebuah kapal serbu amfibi milik AS, USS Iwo Jima (LHD-7), yang sedang berlayar menuju New York. Ia akan menghadapi proses peradilan di Amerika Serikat.
Trump: “Diktator ilegal Maduro adalah kepala dari sebuah jaringan kriminal raksasa yang bertanggung jawab menyelundupkan sejumlah besar narkoba ilegal yang mematikan ke Amerika Serikat.
“Selama bertahun-tahun, ribuan bahkan ratusan ribu warga Amerika telah meninggal akibat perbuatannya,” ujarnya.
“Maduro juga mengirim geng-geng pembunuh yang brutal, termasuk geng penjara haus darah ‘Tren de Aragua’, untuk meneror komunitas Amerika di seluruh negeri,” tambahnya.
Trump juga menuduh rezim sosialis Venezuela sebelumnya telah mengalihkan dan merampas aset minyak melalui nasionalisasi, sehingga menyebabkan Amerika Serikat kehilangan aset senilai puluhan miliar dolar.
Trump: “Selain itu, Venezuela secara sepihak menyita dan menjual minyak Amerika, aset Amerika, dan platform Amerika, yang menyebabkan kami mengalami kerugian miliaran hingga puluhan miliar dolar. Ini terjadi sudah lama, tetapi tidak pernah ada satu pun presiden yang mengambil tindakan.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat telah berkali-kali memberi Maduro kesempatan untuk mundur secara damai, namun Maduro secara pribadi menolak membuat pilihan yang bijaksana.
“Nicolás Maduro didakwa di Amerika Serikat pada tahun 2020. Ia bukan presiden Venezuela yang sah—dan ini bukan hanya klaim sepihak kami. Baik pemerintahan Trump pertama, pemerintahan Biden, maupun pemerintahan Trump kedua tidak pernah mengakui legitimasi dirinya. Uni Eropa dan banyak negara lain di dunia juga tidak mengakui legitimasi tersebut. Saat ini ia adalah buronan Departemen Kehakiman AS, dengan hadiah penangkapan hingga 50 juta dolar AS,” ujarnya.
Terkait siapa yang akan memerintah Venezuela setelah penangkapan Maduro, Presiden Trump mengkonfirmasi bahwa Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez telah dilantik pada Sabtu (3 Januari) pagi sebagai presiden baru Venezuela dan setuju untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga akan terlibat dalam pengelolaan Venezuela hingga kekuasaan dapat diserahkan secara damai kepada rakyat Venezuela.
“Kami akan memegang kendali hingga kami dapat mewujudkan transisi kekuasaan yang aman, tertib, dan adil. Kami tidak ingin setelah orang lain naik, kami kembali ke kekacauan seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, kami akan terus memerintah sampai tercapai transisi yang aman, tertib, dan adil. Dan transisi itu harus adil, karena itulah yang kami perjuangkan. Kami berharap rakyat besar Venezuela dapat menikmati perdamaian, kebebasan, dan keadilan,” ujar Trump.
Laporan oleh Zhang Liang, koresponden New Tang Dynasty, Amerika Serikat




