Sekitar dua ribu pendukung Presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolas Maduro, menggelar unjuk rasa di Caracas pada Minggu (4/1) waktu setempat. Mereka menuntut pembebasan Maduro dan istrinya, Cilia Flores yang ditangkap pasukan Amerika Serikat (AS) dan dibawa ke penjara di New York.
Aksi tersebut dikawal oleh kelompok paramiliter pro-Maduro dan komunitas motor, sebagaimana diberitakan AFP. Para demonstran tampak mengibarkan bendera Venezuela berwarna merah, biru, dan kuning.
"Bebaskan presiden kami," bunyi tulisan di sebuah poster yang dibawa seorang pria dengan kemeja flanel merah bergambar Hugo Chavez, pendahulu sekaligus mentor politik Maduro.
Poster lain bertuliskan "Venezuela bukan koloni siapa pun," yang dinilai sebagai sindiran terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump. Sehari sebelumnya, Trump mengatakan Washington akan "mengelola" Venezuela selama masa transisi yang belum ditentukan.
Pada Senin (5/1), Maduro dijadwalkan menjalani sidang di pengadilan New York. Ia menghadapi dakwaan "narkoterorisme" terkait dugaan penyelundupan kokain ke AS.
"Pengedar narkoba dan teroris yang sebenarnya adalah Trump," ujar Nairda Itriago (56) kepada AFP dengan nada geram. Ia menuduh pasukan AS, yang melancarkan serangan Udara untuk melumpuhkan pertahanan Venezuela saat penangkapan Maduro, telah menewaskan warga sipil yang tidak bersalah.
Hingga kini, rumah sakit di Venezuela belum merilis data resmi jumlah korban tewas maupun luka akibat serangan dini hari tersebut. Di sisi lain, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez, mengatakan sebagian besar tim pengamanan Maduro tewas mengenaskan, termasuk personel militer dan warga sipil. Namun, ia tidak menyebutkan angka pasti.
Sementara itu, sebuah kelompok dokter menyebut sekitar 70 orang tewas an 90 lainnya luka-luka. Sebelumnya, harian New York Times melaporkan sebanyak 40 orang tewas, termasuk warga sipil dan tentara.
Dalam aksi tersebut, para demonstran juga menyuarakan dugaan bahwa Maduro dikhianati oleh orang dalam lingkaran terdekatnya, sehingga memudahkan pasukan khusus AS menangkapnya di pangkalan militer terbesar Venezuela.
"Bagaimana mungkin sistem pertahanan udara tidak berfungsi?" kata seorang akuntan berusia 69 tahun yang memperkenalkan diri sebagai Papa Juancho.
"Maduro dijatuhkan oleh para pengkhianat. Dengan pengamanan seketat itu, kejadian ini seharusnya tidak mungkin terjadi," ujarnya.
Putra Maduro, Nicolas Maduro Guerra, juga mengungkap kecurigaan serupa. Dalam pesan suara ang beredar di media sosial pada Minggu (4/1), ia menyinggung kemungkinan adanya mata-mata di sekitar ayahnya.
Dikutip AFP, Guerra menyebut "sejarah akan mengungkap siapa para pengkhianat itu".





