Gapki Proyeksi Ekspor CPO RI pada 2026 Melemah, Ini Sebabnya

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan terdapat potensi penurunan ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) pada 2026. Padahal, tahun sebelumnya ekspor CPO cukup terungkit secara tahunan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor CPO dan turunannya (HS1511) mencapai US$21,63 miliar pada Januari-November 2025. Angka tersebut meningkat 19,15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$18,15 miliar.

Meski begitu, secara bulanan nilai ekspor CPO dan turunannya tercatat sebesar US$1,42 miliar pada November 2025 atau turun 30,63% dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai US$2,05 miliar.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan, ekspor CPO kemungkinan akan turun dikarenakan produksi dari Indonesia dan Malaysia yang stagnan, sementara permintaan terus mengalami peningkatan. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Gapki memproyeksi produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) mencapai 57 juta ton pada 2025 atau naik 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, peningkatannya belum sebanding dengan kebutuhan yang tinggi. Terlebih, Indonesia akan memulai program biodiesel 50% (B50) pada semester II/2026. 

"Ini akan menyebabkan harga minyak nabati termasuk sawit naik, seperti di tahun 2024, sepanjang tahun harga minyak sawit lebih tinggi dari minyak nabati lainnya, ini akan mendorong importir mengganti minyak nabati lain sepanjang bisa digantikan," kata Eddy kepada Bisnis, Senin (5/1/2025). 

Baca Juga

  • Harga CPO Mendingin Mengikuti Penurunan Ekspor Malaysia
  • Mendag Sebut Ekspor CPO RI Tidak Terdampak Banjir Sumatra
  • RI Bidik Ekspor ke Rusia Cs Naik Dua Kali Lipat, Incar Potensi CPO dan Tekstil

Kendati demikian, di tengah keterbatasan pasokan, ekspor CPO Indonesia sepanjang 2025 masih menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan data Gapki, volume ekspor CPO hingga Oktober 2025 mencapai 27,69 juta ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 24,84 juta ton.

Penyebab peningkatan volume ekspor yakni harga minyak sawit yang lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lain. Adapun, sejak April 2025, harga minyak sawit berada di bawah harga minyak bunga matahari dan minyak kedelai.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan tahun 2024. Kala itu, harga minyak sawit sempat berada di atas harga minyak nabati pesaingnya dan berdampak pada penurunan ekspor.

Di sisi lain, Eddy menyoroti masalah geopolitik global yang diperkirakan dapat memengaruhi kinerja ekspor tahun ini. Terlebih jika kondisi ekonomi global melemah, maka importir diyakini akan mengurangi pembelian. 

"Yang bisa dilakukan adalah bagaimana agar perusahaan bisa kompetitif di pasar global, biaya harus efisien agar apabila terjadi guncangan masih bisa berjalan," pungkasnya. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Warga Aceh Jaya Ronda Malam Demi Halau Gajah Liar Masuk Permukiman
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Donasi buat Masjid Gunungkidul yang Dirobohkan Kini Hampir Rp 100 Juta
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Irfan dan Reyner Dipastikan Absen Lawan PSM
• 23 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Tips Mencegah Masalah Tulang Pada Anak, Ajak Aktivitas Fisik
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Tolak Tambang di Pasaman, Nenek Saudah Dianiaya hingga Wajah Lebam dan Mata Membiru
• 20 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.