Meski sempat ditinggal donatur usai masjid dirobohkan, warga Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, kembali bersemangat membangun Masjid Al-Huda.
Donasi pun mulai berdatangan. Saat ini, warga bersama pekerja tengah membangun talud sebagai tahap awal pembangunan masjid.
“Banyak yang kecewa. Tapi kekecewaan itu tidak menyurutkan semangat umat Islam di Gari. Justru menjadi semangat yang menggebu-gebu untuk membangun masjid ini,” kata Rewang Dwi Atmojo (72), salah satu warga Gari, saat ditemui, Selasa (6/1).
Dwi mengatakan, warga telah menempuh berbagai cara untuk menggalang dana, salah satunya dengan menyebarkan proposal ke sejumlah pihak.
“Berbagai jalan ditempuh. Proposal disebar, donatur-donatur dihubungi, yang punya kenalan di Jakarta dihubungi, yang punya teman sukses juga dihubungi untuk menggali dana,” ujarnya.
Warga optimistis masjid akan rampung dibangun sesuai desain yang telah disepakati bersama, meski total kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp 1,8 miliar.
Warga lainnya, Tholabi, mengatakan dana pembangunan yang terkumpul saat ini sudah mencapai puluhan juta rupiah.
“Yang kita pegang hampir Rp 100 juta hari ini. Setelah talud, agendanya pembangunan cakar ayam,” kata Tholabi.
Peristiwa ini bermula pada November 2025. Warga berencana merenovasi Masjid Al-Huda yang telah berdiri sejak 1984.
Rencana tersebut disambut kedatangan dua orang, yakni warga Pedukuhan Gatak, Kalurahan Gari, berinisial AS, dan seorang warga Kapanewon Ngawen berinisial H.
Menurut warga, H mengaku mewakili sebuah yayasan yang bersedia menjadi donatur dengan syarat masjid harus dirobohkan terlebih dahulu.
Namun, setelah masjid dibongkar, warga berupaya mengonfirmasi ke yayasan yang disebut berada di Tangerang serta kepada tokoh yang diklaim akan memberikan donasi.
Hasilnya, pihak yayasan maupun tokoh yang dimaksud mengaku tidak mengetahui rencana donasi tersebut.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4319270/original/062686100_1675950105-WhatsApp_Image_2023-02-09_at_20.24.28.jpeg)


