FAJAR, MAKASSAR — Alarm bahaya benar-benar menyala di kubu PSM Makassar. Rentetan hasil buruk dan performa yang tak kunjung stabil membuat pelatih PSM, Tomas Trucha, memastikan akan melakukan penambahan pemain pada putaran kedua Super League 2025/2026.
Trucha mengakui, dengan komposisi skuad yang ada saat ini, PSM kesulitan bersaing—terutama saat menghadapi tim-tim papan atas.
Sejak awal kedatangannya, pelatih asal Ceko itu menegaskan tidak menyukai permainan defensif atau sekadar mengandalkan serangan balik. Ia lebih memilih pendekatan menyerang dengan penguasaan bola dan intensitas tinggi.
Pendekatan tersebut sempat berjalan menjanjikan di tiga laga awal. PSM memang kalah tipis 0-1 dari Dewa United, namun kemudian tampil impresif dengan membantai PSBS Biak 5-0 dan menang dramatis 4-3 atas Persis Solo.
Namun, setelah itu segalanya berubah.
Dalam empat pertandingan berikutnya, PSM tak mampu meraih satu pun kemenangan. Total 11 poin terbuang, dimulai dari hasil imbang 1-1 melawan Persebaya Surabaya, lalu kekalahan beruntun dari Malut United (0-1), Persib Bandung (0-1), dan terakhir Borneo FC Samarinda (1-2).
Kekalahan dari Borneo FC kembali menegaskan masalah lama yang belum teratasi. PSM sempat unggul cepat lewat gol Alex Tanque di menit ke-2, namun keunggulan itu runtuh di babak kedua.
Dua gol sundulan Joel Vinicius—keduanya berasal dari umpan silang—menjadi bukti rapuhnya pertahanan PSM dalam mengantisipasi crossing dan duel udara.
Trucha tak menampik bahwa timnya tampil inkonsisten, bahkan sempat meninggalkan prinsip bermain menyerang yang selama ini ia gaungkan.
“Setelah unggul, kami mencoba bertahan dan mengandalkan counter attack. Tapi dalam 25 menit terakhir kami bermain tidak bagus dan mereka berhasil mencetak gol,” ujar Trucha.
Ia mengakui, tiga kekalahan beruntun merupakan situasi yang tidak sehat bagi klub.
“Evaluasi tentu penting, karena kami sudah kalah tiga kali berturut-turut. Ini tidak bagus untuk pemain, tidak bagus untuk klub, tidak bagus untuk suporter, dan juga tidak bagus untuk pelatih,” tegasnya.
Situasi inilah yang membuat Trucha memastikan PSM akan aktif di bursa transfer paruh musim. Penambahan pemain dinilai menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar opsi.
Pengamat sepak bola Assegaf Razak menilai langkah tersebut wajar. Namun ia mengingatkan, evaluasi tidak boleh berhenti di wacana.
“Evaluasi itu wajib. Menang pun harus dievaluasi, apalagi kalah. Tapi evaluasi harus berdampak nyata, jangan kesalahan yang sama terus berulang,” ujar mantan pelatih PSM itu.
Assegaf juga menyoroti pengambilan keputusan Trucha di laga-laga krusial, termasuk pergantian pemain yang dinilainya kurang tepat. Ia mencontohkan laga kontra Borneo FC, ketika Mufli Hidayat yang baru masuk harus kembali ditarik keluar, sementara opsi menyerang baru dimaksimalkan di menit-menit akhir.
“Keputusan di tengah pertandingan sangat menentukan. Tidak boleh ragu atau terlambat, apalagi saat tertinggal,” jelasnya.
Meski demikian, peluang PSM belum sepenuhnya tertutup. Putaran kedua Super League masih menyisakan ruang untuk perbaikan—asal langkah yang diambil tepat.
Kini, bola berada di tangan manajemen dan tim pelatih. Penambahan pemain bukan lagi kebutuhan jangka panjang, melainkan solusi cepat agar PSM Makassar tidak semakin tertinggal dalam persaingan papan atas.




