ATR/BPN Tuntaskan Konflik Agraria Lewat Redistribusi Tanah di Blitar 

eranasional.com
1 hari lalu
Cover Berita

Blitar,, ERANASIONAL.COM — Kementerian Agraria Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) berkolaborasi dengan PT Kismo Handayani dan masyarakat setempat dalam menuntaskan konflik agraria selama belasan tahun yang terjadi antara petani dan perusahaan perkebunan di Kabupaten Blitar pada tahun 2022, akhirnya berdama melalui Redistribusi Tanah melalui program Reforma Agraria.

Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar, Barkah Yoelianto, menekankan bahwa pemerintah berperan sebagai fasilitator dalam penyelesaian konflik. Baginya, keberhasilan di Desa Soso terjadi karena semua pihak mau duduk bersama untuk mencari solusi.

“Kita memfasilitasi. Mereka yang berkonflik kita dudukkan bareng. Mau diselesaikan apa tidak? Ketika mau, ya selesai. Kuncinya adalah kolaborasi. Pertama kita samakan visi, lalu berbagi peran, siapa melakukan apa,” jelas Barkah Yoelianto dalam keterangan resminya di Kantah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Senin (5/01/2026).

Ia juga menerangkan, kesepakatan apa pun yang diputuskan bersama wajib dijalankan. Setelah redistribusi, pemerintah tidak berhenti pada penerbitan sertipikat, tetapi juga melakukan penataan akses pasca redistribusi.

“Selesai diberikan sertipikat, mereka mau ditata. Ditata tanahnya, ditata juga pengelolaannya,” ujar Barkah Yoelianto.

Dia menambahkan penyelesaian konflik di Desa Soso bukan hanya meredakan ketegangan masyarakat dan perusahan, tetapi juga membuka jalan bagi pembangunan ekonomi lokal.

“Ke depan, kolaborasi yang telah terbangun ini, diharapkan menjadi bukti bahwa konflik agraria dapat ditangani tanpa konfrontasi, melainkan melalui komunikasi, empati, dan komitmen bersama dalam mewujudkan Reforma Agraria yang berkeadilan,” tandas dia.

Sementara itu, Kepala perkebunan PT Kismo Handayani, Dwi Setyo Rahadi (47) mengakui, konflik di Desa Soso bisa saja tidak selesai jika kala itu Kementerian ATR/BPN tidak memulai proses penanganan sengketa melalui mediasi berkelanjutan dan fasilitasi Redistribusi Tanah.

“Kadang perusahaan tidak menyadari bahwa komunikasi yang kurang bisa berdampak besar. Setelah turun langsung ke masyarakat, kami jadi lebih mengerti konflik sebelum dan sesudah redis. Bagi kami, menyelesaikan konflik dan membangun sinergi dengan masyarakat Desa Soso adalah kebanggaan dan sangat membekas,” terang Dwi Setyo Rahadi, di Desa Soso, Kabupaten Blitar.

Hasilnya, sekarang petani dapat mengelola tanah secara mandiri. Pihak perusahaan juga tetap menjalankan operasional perkebunannya dan aktif memberikan pendampingan bagi warga.

“Saya sering keliling bukan untuk mengatur, tetapi memberi edukasi agar tanah difungsikan maksimal. Kalau dilihat sekarang, hasilnya jauh lebih bagus,” kata Dwi Setyo Rahadi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Warga Keluhkan Genangan di Jalan Dekat Stasiun Depok Baru: Baunya Kayak Limbah
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Tawuran Kelompok Pemuda Bersajam Pecah di Tol Krukut, 3 Orang Ditangkap
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Satelit NASA Tangkap Penampakan Danau Raksasa di Australia Berubah 2 Warna
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Menhan Tegaskan Peran Strategis KKRI dalam Menyiapkan Calon Pemimpin Bangsa
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Balita Jatuh dari Lantai 2 di Jaktim Diasuh Kakak Usia 7 Tahun
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.