VIVA – Biro Keamanan Nasional Taiwan (National Security Bureau/NSB) mengungkapkan bahwa pasukan siber China melancarkan rata-rata 2,63 juta upaya intrusi per hari terhadap infrastruktur kritis Taiwan sepanjang tahun 2025. Angka tersebut meningkat sekitar enam persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam laporan bertajuk "Analisis Ancaman Siber Tiongkok terhadap Infrastruktur Kritis Taiwan pada 2025", NSB menyebutkan bahwa sektor energi, layanan penyelamatan darurat, dan rumah sakit menjadi sasaran utama, dengan lonjakan serangan tahunan paling signifikan dibanding sektor lainnya.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa serangan siber dari aktor Tiongkok dilakukan melalui empat taktik utama, yakni eksploitasi kerentanan perangkat keras dan perangkat lunak, serangan penolakan layanan terdistribusi (DDoS), rekayasa sosial, serta serangan terhadap rantai pasokan.
Dari keempat metode itu, eksploitasi kerentanan sistem menyumbang lebih dari separuh total upaya intrusi.
NSB juga mengidentifikasi lima kelompok peretas utama asal Tiongkok yang aktif menargetkan infrastruktur penting Taiwan, yakni BlackTech, Flax Typhoon, Mustang Panda, APT41, dan UNC3886. Kelompok-kelompok tersebut memusatkan serangan pada lima sektor strategis, meliputi energi, perawatan kesehatan, komunikasi dan transmisi, administrasi pemerintahan dan lembaga publik, serta teknologi.
Sepanjang 2025, setidaknya 20 kasus penyebaran ransomware terdeteksi, dengan sasaran utama rumah sakit besar, yang dinilai berpotensi mengganggu operasional layanan kesehatan vital.
NSB mencatat bahwa intensitas serangan siber meningkat tajam pada momen-momen sensitif secara politik. Puncak serangan terjadi menjelang peringatan satu tahun pelantikan Presiden Lai Ching-te pada Mei, serta kembali meningkat saat kunjungan Wakil Presiden Hsiao Bi-khim ke Eropa pada November.
Meski demikian, badan keamanan tersebut tidak merinci jumlah upaya intrusi yang berhasil menembus sistem pertahanan Taiwan.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa sepanjang 2025, lembaga keamanan siber dan intelijen di kawasan Indo-Pasifik, NATO, dan Uni Eropa secara konsisten mengidentifikasi Tiongkok sebagai sumber utama ancaman keamanan siber global.
Untuk menghadapi eskalasi tersebut, NSB menggelar dialog keamanan informasi dan konferensi teknis dengan lebih dari 30 negara sepanjang tahun lalu. Taiwan juga memperkuat kerja sama dengan mitra dan sekutu internasional guna memperoleh intelijen terkini terkait pola serangan siber Tiongkok.



