REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh American Cancer Society, angka kejadian kanker pada perempuan muda di bawah usia 50 tahun meningkat secara drastis dibandingkan dengan laki-laki pada kelompok usia yang sama. Selisihnya tidak main-main. Angka kejadian kanker pada perempuan kini tercatat 82 persen lebih tinggi daripada laki-laki.
Tren ini menunjukkan lonjakan yang sangat tajam, mengingat pada tahun 2002 perbedaannya hanya berada di angka 51 persen. Fakta bahwa angka ini terus membengkak hingga 2021 menjadi sinyal peringatan keras bagi otoritas kesehatan dunia.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Kanker Paru Kini Incar Perempuan Muda di Bawah Usia 50 Tahun
- Hampir 200 Anak di Eropa Lahir dari Donor Sperma Pembawa Gen Kanker
- Terinfeksi Virus Ini Saat Kecil Berisiko Picu Kanker Kandung Kemih Ketika Dewasa
Salah satu pemicu utama di balik angka-angka yang mengerikan ini adalah peningkatan kasus kanker payudara invasif yang naik rata-rata 1,4 persen per tahun pada perempuan muda. Para peneliti menyoroti beberapa faktor risiko yang mungkin berkontribusi, mulai dari kelebihan berat badan, usia persalinan yang lebih lambat, hingga keputusan untuk memiliki lebih sedikit anak. Masalahnya tidak berhenti di sana.
Kanker rahim juga menunjukkan tren mortalitas yang meningkat sebesar 1,5 persen per tahun, sementara kanker kolorektal pada individu di bawah 50 tahun melonjak 2,4 persen tiap tahunnya. Bahkan kanker pankreas turut merangkak naik secara stabil sejak pertengahan era 1990-an.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Kondisi yang disebut "berat sebelah" ini memicu perdebatan di kalangan ahli mengenai penyebab sebenarnya. Epidemiolog dari American Cancer Society sekaligus penulis utama laporan tersebut, mengungkapkan kegelisahannya dalam wawancara dengan New York Times.
"Dari semua jenis kanker yang meningkat, beberapa memang meningkat pada laki-laki, tetapi ini tidak seimbang, lebih banyak peningkatan ini terjadi pada perempuan," kata Seigel dikutip dari People pada Selasa (6/1/2026).



