JAKARTA, KOMPAS.com – Tingginya biaya hidup masih menjadi tantangan utama bagi sebagian besar warga Jakarta.
Dengan harga kebutuhan pokok, tempat tinggal, hingga transportasi yang terus merangkak naik, pendapatan setara Upah Minimum Provinsi (UMP) kerap kali tidak cukup, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki tanggungan.
Kondisi tersebut memaksa banyak warga Ibu Kota mencari cara bertahan, mulai dari mengambil pekerjaan tambahan hingga mengencangkan ikat pinggang dengan memangkas berbagai kebutuhan nonprioritas.
Baca juga: Hidup di Jakarta Mahal Banget, Susah Kalau Enggak Kerja Keras
Salah satunya dialami Rahmat Hidayat (35), warga Manggarai, Jakarta Selatan. Ia mengaku, penghasilan setara UMP dari pekerjaannya sebagai karyawan ritel elektronik di sebuah mal sering kali tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=indepth, biaya hidup Jakarta, in depth, Gaji UMP Jakarta, Pendapatan pas-pasan, Tantangan ekonomi Jakarta&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8xODMwMDEwMS9iaWF5YS1oaWR1cC1qYWthcnRhLW1lbmNla2lrLXdhcmdhLWhhcnVzLW1lcm9nb2gtcnAtNC1qdXRhLXBlci1idWxhbg==&q=Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Rahmat harus menafkahi istri, anak berusia satu tahun, serta kedua orangtuanya. Untuk menambah pemasukan, ia pun mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengemudi ojek online.
Selepas salat Subuh, Rahmat memanaskan sepeda motornya untuk mulai menarik penumpang. Sekitar pukul 11.00 WIB, ia pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja di toko elektronik pada pukul 15.00 WIB.
Namun, ketika mendapat jadwal kerja pagi di toko, Rahmat justru menarik ojek online selepas Maghrib hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
"Lumayan dari ojek nambah penghasilan rata-rata Rp 100.000 per hari," kata dia saat diwawancarai Kompas.com di Manggarai, Selasa (6/1/2026).
Biaya hidup mahalJika ditotal, pendapatan Rahmat dari pekerjaan ritel dan ojek online mencapai sekitar Rp 8,3 juta per bulan. Meski demikian, jumlah tersebut tetap sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Menurut Rahmat, mahalnya biaya hidup di Jakarta menjadi penyebab utama penghasilannya cepat habis setiap bulan. Biaya makan dan listrik menjadi pos pengeluaran terbesar.
Baca juga: Cerita Penjual Kerak Telor, Tak Merokok demi Bertahan Hidup di Jakarta
"Makan enggak bisa dihitung, kadang masak, kadang beli di luar, dalam sebulan bisa lah Rp 4 juta," ungkap dia.
Ia menjelaskan, dalam sehari biaya makan untuk dirinya dan sang istri minimal Rp 50.000 per orang. Jika dikalikan 30 hari, totalnya mencapai sekitar Rp 3 juta per bulan.
Sisa Rp 1 juta digunakan untuk membeli makanan, susu, serta camilan anaknya yang masih berusia satu tahun.
Selain itu, Rahmat juga harus membayar tagihan listrik sekitar Rp 400.000 dan internet Rp 250.000 setiap bulan. Belum termasuk biaya sewa kontrakan sebesar Rp 1,2 juta per bulan.
Tak heran, ayah satu anak itu harus bekerja ekstra demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya di Jakarta.



