EtIndonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, dunia internasional kembali diguncang oleh rangkaian konflik yang saling berkelindan. Setelah pecahnya perang antara Thailand dan Kamboja, gelombang protes besar di Iran, serta latihan militer Partai Komunis Tiongkok di kawasan Selat Taiwan, kini Timur Tengah kembali memanas. Konflik terbaru meletus di Yaman, melibatkan dua sekutu lama: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Serangan Udara Saudi di Yaman
Pada malam 2 Januari 2026, Angkatan Udara Arab Saudi melancarkan serangan udara intensif terhadap kelompok bersenjata di wilayah Yaman. Rekaman yang beredar memperlihatkan sejumlah kendaraan militer hancur total dan terbakar hebat di lokasi serangan, dengan api dan asap membumbung tinggi ke udara.
Serangan tersebut bukan insiden tunggal. Beberapa hari sebelumnya, pada 30 Desember 2025, Arab Saudi juga melakukan serangan udara presisi ke Pelabuhan Mukalla, Yaman timur. Target serangan adalah material logistik militer yang diketahui milik Uni Emirat Arab dan digunakan oleh kelompok bersenjata lokal.
Pada hari yang sama, otoritas Saudi merilis rekaman pengawasan berbasis drone yang memperlihatkan dua kapal angkut penuh senjata dan amunisi berlabuh di Mukalla. Senjata tersebut diduga akan didistribusikan kepada kelompok bersenjata lokal Yaman yang mendapat dukungan langsung dari Uni Emirat Arab.
Logistik Militer dan Serangan Presisi
Perlu dicatat, rekaman yang dirilis bukanlah video pengeboman secara langsung, melainkan hasil pemantauan drone jangka panjang. Video tersebut melacak pergerakan senjata sejak tiba di pelabuhan, proses pemindahan kontainer, hingga distribusi kendaraan militer.
Juru bicara militer Arab Saudi menyatakan bahwa dua kapal angkut UEA tersebut membawa lebih dari 80 kendaraan militer, serta sejumlah besar kontainer berisi senjata dan amunisi. Tanpa pemberitahuan kepada pihak Saudi, UEA memindahkan kendaraan, kontainer, dan personel militernya ke Pangkalan Rayyan di wilayah Hadramaut.
Rekaman pascaserangan yang diambil warga setempat menunjukkan puluhan kendaraan militer di area pelabuhan hancur total akibat serangan udara. Video lain yang direkam pada malam hari memperlihatkan warga melintas di sekitar pelabuhan Mukalla, sementara asap tebal masih terlihat membubung di berbagai titik.
Respons UEA dan Aktivitas Militer
Sebagai respons terhadap eskalasi tersebut, warga Uni Emirat Arab merekam aktivitas darurat di sejumlah pangkalan udara dekat Dubai. Dalam rekaman tersebut terlihat jet-jet tempur UEA lepas landas secara mendesak, menandakan kesiapsiagaan militer tingkat tinggi.
Namun, alih-alih meningkatkan eskalasi terbuka, Uni Emirat Arab justru memilih langkah yang mengejutkan.
STC Mundur, Pasukan Pro-Saudi Maju
Memasuki awal Januari 2026, dampak serangan Saudi mulai terlihat di lapangan. Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC)—kelompok bersenjata yang didukung Uni Emirat Arab—mulai menarik pasukannya dari sejumlah wilayah di Provinsi Hadramaut.
Sebaliknya, Pasukan Perisai Nasional yang didukung Arab Saudi bergerak maju ke garis depan, mengisi wilayah yang ditinggalkan STC.
Mengapa Saudi dan UEA Bisa Berhadap-hadapan?
Banyak pihak mempertanyakan situasi ini. Bukankah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab selama ini berada dalam satu koalisi di Yaman? Mengapa kini mereka justru terlibat bentrokan tidak langsung?
Untuk memahami konflik ini, perlu menengok struktur kompleks perang saudara Yaman.
Tiga Kekuatan Utama di Yaman
Perang saudara Yaman pecah pada 2014, dan pada 2015 Arab Saudi memimpin koalisi militer negara-negara Arab—termasuk Uni Emirat Arab—untuk campur tangan dalam konflik tersebut.
Hingga 2021, peta kekuatan Yaman terbagi menjadi tiga poros utama:
- Kelompok Houthi
- Menguasai wilayah barat laut Yaman, termasuk ibu kota Sana’a
- Didukung Iran
- Memiliki kekuatan militer paling solid
- Dalam dua tahun terakhir aktif meluncurkan rudal ke kawasan Laut Merah
- Pemerintah Yaman yang Diakui Internasional
- Didukung Arab Saudi
- Memiliki legitimasi internasional, namun lemah secara militer
- Dewan Transisi Selatan (STC)
- Menguasai wilayah pesisir selatan dan timur, termasuk Aden dan Mukalla
- Didukung Uni Emirat Arab
- Didirikan pada 2017, berorientasi pada pemisahan Yaman Selatan
Situasi ini kerap dianalogikan sebagai “Tiga Kerajaan” versi Yaman.
Perubahan Kepentingan dan Pecahnya Konflik
Pada fase awal, ketiga kekuatan ini memiliki musuh bersama: kelompok Houthi. Namun setelah bertahun-tahun perang tanpa hasil menentukan, kepentingan mulai bergeser.
STC tidak berniat menyatukan Yaman. Tujuan politik mereka adalah menghidupkan kembali Yaman Selatan, yang secara historis pernah berdiri terpisah dari Yaman Utara.
Hingga 2022, hampir seluruh pesisir selatan dari Aden hingga Mukalla jatuh ke tangan STC. Situasi relatif stabil hingga Desember 2025, ketika STC melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan pemerintah Yaman di wilayah utara.
Rekaman lapangan menunjukkan pasukan STC memasuki desa-desa di Hadramaut—wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi dan memiliki Pelabuhan Mukalla, yang dianggap vital bagi keamanan nasional Saudi.
Video lain memperlihatkan masuknya kendaraan militer buatan UEA, termasuk Cougar LAMV dan Spartan, melalui Mukalla ke wilayah Yaman.
Saudi Murka, UEA Mundur
Pada 28 Desember 2025, peta konflik menunjukkan hampir seluruh wilayah timur laut Yaman dikuasai STC, sementara pasukan pemerintah Yaman tersisa di area gurun.
Situasi ini memicu kemarahan Arab Saudi. STC tidak melawan Houthi, justru menyerang pemerintah sah Yaman, sementara UEA terus mengirimkan senjata dalam jumlah besar.
Akibatnya, akhir 2025, Arab Saudi melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap STC dan menghantam logistik militer UEA di Mukalla.
Secara mengejutkan, Uni Emirat Arab memilih menurunkan eskalasi. Pada 30 Desember 2025, pesawat angkut C-17 UEA terlihat mengevakuasi pasukan dari Mukalla, menandai penarikan resmi UEA dari operasi militer di Yaman.
Pertempuran Masih Berlanjut
Seiring mundurnya UEA, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi mulai bergerak maju. Rekaman menunjukkan konvoi kendaraan panjang melintasi gurun Hadramaut. Di garis depan, sejumlah kendaraan lapis baja buatan UEA dilaporkan hancur.
Pada 2 Januari 2026, pasukan pemerintah Yaman mengumumkan telah merebut kembali beberapa pangkalan militer. Malam harinya, dengan dukungan udara Saudi, mereka berhasil memasuki Kota Qatn di Lembah Hadramaut.
Perang Tanpa Akhir
Konflik antara pasukan yang didukung Arab Saudi dan STC yang didukung Uni Emirat Arab diperkirakan masih akan berlanjut. Sementara itu, kelompok Houthi di utara justru menjadi pihak yang paling diuntungkan, karena perhatian dan sumber daya lawan mereka terpecah.
Sejak pecah pada 2014, perang saudara Yaman telah berlangsung lebih dari 12 tahun tanpa tanda-tanda penyelesaian. Dengan banyaknya faksi bersenjata dan keterlibatan kekuatan regional—Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab—konflik ini terus berputar dalam lingkaran kekerasan, tanpa pemenang mutlak.



