JAYAPURA, KOMPAS - Banjir rob melanda sejumlah wilayah di pesisir Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada awal Januari 2026. Bencana ini dilaporkan berulang dan terus mengintai permukiman warga pesisir Merauke.
Stasiun Meteorologi Mopah Merauke mencatat, rob awal tahun ini terjadi pada 4-6 Januari 2026 di sejumlah pesisir Merauke. Dalam prediksi harian, potensi rob ini masih bisa berlangsung hingga 9-10 Januari 2026.
Rob menimpa sejumlah kampung di Distrik Waan, Kimaam, Naukenjerai, serta pesisir Pantai Lampu Satu Merauke dengan ketinggian air bervariasi 0,5 meter -2 meter. Kenaikan banjir rob dilaporkan menggenangi permukiman hingga kebun warga.
“Pada awal tahun biasanya ada fenomena bulan baru. Ada tiga fenomena yang berlangsung secara bersamaan yang berdampak bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah pesisir,” ujar prakirawan Stasiun Meteorologi Mopah Merauke, Dita Rahmawati, saat dihubungi dari Jayapura, Papua, Kamis (8/1/2026).
Dita menyampaikan, fenomena yang pertama mengenai pasang surut maksimal di wilayah pesisir. Dari pemantauan kondisi pasang surut di sejumlah titik, situasi pasang maksimal naik mulai dari 3 meter - 3,5 meter dibandingkan kondisi normal.
Selain itu, tinggi gelombang yang cukup signifikan dilaporkan kembali terjadi. Di wilayah perairan Yos Sudarso, misalnya, ketinggian gelombang laut berkisar 2 meter - 2,5 meter.
“Ada pula dampak dari kondisi cuaca yang cukup signifikan. Kondisi hujan yang cukup intens mulai dari sedang hingga lebat terjadi di seluruh wilayah Merauke,” katanya. Akumulasi fenomena membuat banjir rob di pesisir dengan kenaikan level air hingga 2 meter di daratan.
Kondisi seperti ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga 9-10 Januari 2026. Sejumlah daerah, khususnya permukiman dataran rendah di pesisir Merauke, seperti Waan, Tabonji, Kimaam, hingga Naukenjerai perlu mewaspadai banjir rob ini.
Selain itu, menurut Dita, peringatan untuk aktivitas laut berada pada kategori waspada hingga siaga. Bagi para nelayan dengan tinggi gelombang laut di atas 1,25 meter diimbau untuk tidak melakukan aktivitas melaut.
Ada tiga fenomena yang berlangsung secara bersamaan yang berdampak bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah pesisir.
Sementara itu, Komandan Kodim 1707/Merauke Letnan Kolonel (Czi) Dili Eko Setyawan, mengatakan, saat ini pihaknya terus memonitor banjir rob yang terjadi di sejumlah distrik ini. Air menggenangi permukiman hingga kebun milik warga. Namun, tidak ada laporan korban jiwa dalam musibah ini.
Dihubungi terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Merauke Romanus Sujatmiko mengatakan, saat ini pihaknya masih terus berkoordinasi terkait rob ini.
“Untuk korban jiwa, tidak ada laporan. Namun, kemungkinan terkait pangan pasti terdampak, apalagi kebun mereka terdampak. Ini yang masih kami tunggu laporan dari kepala distrik atau kepala kampung,” ucap Romanus.
Di sisi lain, bencana yang berulang ini perlu segera mendapat perhatian serius. Sebelumnya, pada Oktober-November 2025, Distrik Waan juga dilanda banjir rob ini. Saat itu, sekitar 800 warga terdampak.
Di tengah kondisi iklim saat ini, ancaman banjir rob bisa jadi akan terus berulang. Romanus mengatakan, upaya-upaya antisipasi jangka panjang berdasarkan kajian risiko bencana (KRB) yang diterbitkan pada 2024 telah disampaikan kepada pihak atau instansi terkait.
“Kami sudah sampaikan kepada pemerintah daerah Merauke, termasuk kepada instansi terkait seperti pekerjaan umum atau balai wilayah sungai agar ini segera menjadi perhatian untuk ditangani bersama,” ujarnya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5278403/original/024385100_1752071571-1000599536.jpg)

