Ponorogo (beritajatim.com) – Intensitas bencana alam di Kabupaten Ponorogo sepanjang tahun 2025 tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi, terutama tanah longsor di wilayah perbukitan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat sebanyak 186 kejadian bencana sepanjang 2025 berdasarkan hasil kaji cepat di lapangan. Dari total tersebut, 100 kejadian merupakan tanah longsor, diikuti 47 kejadian banjir, 29 cuaca ekstrem, tujuh kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dua kejadian kekeringan, serta satu kejadian bencana lainnya.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, menyebut jumlah kejadian bencana sepanjang 2025 mengalami penurunan hampir 45 persen dibandingkan total bencana yang terjadi pada 2024.
“Kalau dibandingkan tahun 2024, memang turun drastis, hampir 45 persen,” kata Masun, Kamis (8/1/2026).
Penurunan paling signifikan terjadi pada jenis bencana kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan. Menurut Masun, dua jenis bencana tersebut tercatat menurun hingga hampir 90 persen sepanjang 2025. Ia menjelaskan, kondisi iklim menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi tren penurunan tersebut.
Sepanjang 2025, wilayah Ponorogo berada pada fase yang kerap disebut masyarakat sebagai kondisi “kering basah”, yakni musim kemarau yang masih diselingi hujan ringan. Kondisi ini dipengaruhi oleh melemahnya El Nino yang dibarengi dengan dampak La Nina ringan.
“Tahun 2025 ini masih ada pengaruh El Nino rendah, tapi juga ada dampak La Nina ringan. Hujan masih turun meski sedikit-sedikit, sehingga sumber air masih tersedia dan tidak terjadi kekeringan,” jelasnya.
Selain faktor iklim global, Masun menyebut berkurangnya kemunculan bibit siklon tropis turut berpengaruh besar terhadap menurunnya intensitas bencana. Ia membandingkan kondisi tahun 2025 dengan 2024, ketika hampir seluruh wilayah pesisir selatan Jawa Timur kerap terdampak bibit siklon tropis yang memicu hujan lebat disertai petir dan angin kencang.
“Dibanding 2024, kemunculan bibit siklon jauh berkurang. Tahun 2024 hampir selalu dilaporkan ada bibit siklon tropis di selatan. Tahun 2025 lebih banyak terbentuk di arah utara atau timur, dan jarang berdampak ke wilayah Jawa Timur,” ungkapnya.
Dengan dinamika tersebut, Masun menilai musim hujan 2025 di Kabupaten Ponorogo relatif berjalan normal. Meski masih terjadi cuaca ekstrem, intensitasnya tidak setinggi tahun sebelumnya dan hanya terjadi sesekali.
“Secara umum musim hujan tahun lalu bisa dibilang normal. Cuaca ekstrem ada, tapi hanya sekali dua kali. Apalagi BPBD provinsi juga aktif melakukan modifikasi cuaca,” pungkas Masun. [end/beq]




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5412015/original/075913400_1763029321-WhatsApp_Image_2025-11-13_at_17.11.39__1_.jpeg)