Pasar Otomotif 2026 Diprediksi Masuk Fase Baru, Hybrid dan Harga Jadi Penentu

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Dinamika pasar otomotif nasional diperkirakan memasuki babak baru pada 2026. Utamanya berkat berakhirnya insentif fiskal untuk mobil listrik impor dan rencana kenaikan PPN.

Merek-merek asal China yang selama ini agresif di segmen elektrifikasi mulai dihadapkan pada tantangan baru, yakni potensi kebangkitan segmen low cost green car (LCGC) serta semakin menguatnya adopsi hybrid electric vehicle (HEV).

Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyebut bahwa masuknya merek China dengan pendekatan harga kompetitif dan fitur tinggi, membuat pasar tidak serta-merta mundur ke teknologi lama.

“Merek China tetap agresif melakukan perang harga dan efisiensi manufaktur untuk membendung potensi kebangkitan segmen LCGC ICE konvensional,” ujar Yannes kepada kumparan, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, tanpa kehadiran produk-produk elektrifikasi berharga terjangkau, baik hybrid maupun listrik, pasar berisiko mengalami regresi. Kenaikan harga kendaraan akibat berakhirnya insentif umum yang dapat mendorong konsumen kembali melirik LCGC.

Namun, strategi merek China yang menekan biaya produksi dan memangkas margin justru menciptakan 'tembok penahan' agar konsumen tetap berada di jalur teknologi yang lebih maju.

“Tanpa skema seperti ini, industri berisiko mengalami pergerakan besar kembali ke segmen LCGC atau ICE konvensional karena lonjakan harga setelah insentif umum (mobil listrik) berakhir,” lanjutnya.

Yannes menilai agresivitas tersebut bukan semata soal harga murah, melainkan efisiensi menyeluruh, mulai dari manufaktur, rantai pasok, hingga lokalisasi komponen.

Terlebih, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencanangkan skema insentif baru, yakni berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), standar emisi, dan batasan harga untuk menciptakan subsidi yang lebih tepat guna.

Melalui rencana kebijakan itu, para pabrikan didorong untuk melakukan manufaktur lokal jika hendak menerima relaksasi. Sehingga, industri otomotif secara keseluruhan bisa membaik.

Kebangkitan hybrid

Yannes turut melihat potensi HEV menjadi teknologi yang paling diuntungkan pada 2026. Mobil hybrid dinilai mampu menjawab kebutuhan konsumen rasional, khususnya di luar kota besar dan di luar Pulau Jawa, tanpa memunculkan kekhawatiran soal jarak tempuh.

“Antara kebangkitan ICE, LCGC, dan HEV, HEV paling diuntungkan sebagai jembatannya karena ia tidak memicu range anxiety untuk area luar kota besar dan di luar Jawa,” jelas Yannes.

Sementara itu, kendaraan listrik murni (BEV) diperkirakan akan tumbuh lebih selektif, dengan fokus pada model produksi lokal yang memenuhi ambang batas TKDN. Sedangkan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) cenderung bertahan di segmen premium.

Dengan tekanan harga yang meningkat dan daya beli kelas menengah yang belum pulih sepenuhnya, Yannes menilai persaingan antar merek akan semakin ketat.

Dalam kondisi tersebut, perang harga dari merek China menjadi salah satu faktor kunci yang menjaga pasar tetap bergerak maju, bukan kembali ke titik awal.

Situasi ini menegaskan bahwa arah pasar otomotif 2026 tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh strategi pemain global dalam membaca kondisi konsumen Indonesia yang semakin rasional dan sensitif terhadap harga.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Siap Dipoligami Insanul Fahmi, Inara Rusli Gak Takut Kena Cancel Culture, Singgung Soal Syariat Islam
• 19 jam lalugrid.id
thumb
Pemerintah Beri Relaksasi KUR Bunga 0 Persen Buat Korban Bencana Sumatera
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Tak Capai Target, Penerimaan Pajak 2025 Shortfall Rp271,7 Triliun
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Lemkapi Tegaskan Polri Idealnya Tetap di Bawah Presiden
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Sjafrie Didampingi Wapang TNI Bertemu Menhan Turki di Kompleks Aselsan
• 8 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.