Trump Ancam Iran jika Ada Demonstran yang Ditembak

katadata.co.id
18 jam lalu
Cover Berita

Presiden Amerika Serikat Trump memperingatkan para pemimpin Iran bahwa akan ada 'konsekuensi berat', jika mereka menindak gerakan protes di negara dengan julukan Persia ini.

"Sebaiknya kalian jangan mulai menembak (demonstran), karena kami juga akan mulai menembak," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat (9/1) waktu setempat, dikutip dari Reuters pada Sabtu (10/1).

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduh bahwa pasukan keamanan Iran telah membunuh dan melukai sejumlah demonstran.

Meski begitu, para pengamat menilai Trump masih menunggu untuk melihat bagaimana krisis di Iran berkembang, sebelum mendukung seorang pemimpin oposisi. Penilaian ini merujuk pada pernyataan Trump bahwa saat ini ia tidak berniat untuk bertemu dengan Reza Pahlavi, putra mahkota yang diasingkan dan putra mendiang Shah Iran.

“Saya pikir kita harus membiarkan semua orang keluar dan melihat siapa yang akan muncul,” kata Trump kepada pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt pada Kamis (8/1). “Saya tidak yakin apakah itu hal yang tepat untuk dilakukan.”

Reza Pahlavi, yang tinggal di dekat Washington, telah menyerukan demonstrasi massal berkelanjutan melalui media sosial. Dalam unggahan pada Jumat (9/1), ia meminta Trump untuk lebih terlibat dalam krisis ini dengan 'perhatian, dukungan, dan tindakan'.

"Anda (Trump) telah membuktikan dan saya tahu Anda adalah seorang pria yang cinta damai dan seorang yang menepati janji. Mohon bersiaplah untuk turun tangan membantu rakyat Iran," katanya.

Intelijen AS Sebut Pemerintahan Iran Masih Aman meski Ada Demo Besar-besaran 

Awal pekan ini, penilaian dari komunitas intelijen AS menyatakan bahwa gerakan demo di Iran tidak cukup besar untuk menantang kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, menurut sumber yang mengetahui laporan ini.

Namun, para analis AS mengamati situasi itu dengan cermat. "Sebelum 24 jam terakhir, protes secara umum terkonsentrasi di kota-kota di mana penentangan terhadap rezim selalu ada. Pergeseran ke daerah-daerah basis pendukung (seperti kota kelahiran Pemimpin Tertinggi di Mashad) merupakan perkembangan yang signifikan," kata sumber.

Juru bicara Gedung Putih enggan menanggapi dugaan laporan intelijen AS soal perkembangan demonstrasi di Iran itu. "Seperti yang telah berulang kali dinyatakan Presiden, jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, 'Mereka akan menerima balasan yang sangat setimpal'," kata dia.

Dikutip dari BBC Internasional, Teheran telah menyaksikan demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa dekade, ketika protes melanda puluhan distrik di seluruh ibu kota dan wilayah metropolitan yang lebih luas dengan hampir 16 juta penduduk.

Selama beberapa jam di sana pada Kamis (8/1) malam waktu setempat, pasukan keamanan tampak sangat menahan diri. Di area di mana kerumunan sangat besar, polisi dan unit keamanan sebagian besar menghindari konfrontasi langsung, menimbulkan pertanyaan tentang apakah pihak berwenang sengaja menahan diri.

Namun, pengekangan itu tampaknya bersifat selektif dan strategis, bukan absolut. Sementara Teheran menunjukkan pendekatan yang relatif hati-hati, laporan dari kota-kota kecil dan provinsi-provinsi di seluruh negeri menceritakan kisah yang jauh lebih penuh kekerasan.

Menurut beberapa organisasi hak asasi manusia Iran, termasuk kelompok hak asasi manusia Kurdi Iran yang berbasis di Jerman, Hengaw, dan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (Hrana) yang berbasis di AS, lebih dari 40 orang tewas sejak protes dimulai hampir dua minggu lalu.

Tim verifikasi BBC Persia mengonfirmasi identitas setidaknya 21 korban melalui wawancara dengan kerabat. Banyak di antaranya tewas di Lorestan dan wilayah mayoritas Kurdi di provinsi Illam dan Kermanshah.

Bukti video yang diperoleh BBC menunjukkan pasukan keamanan menembak langsung ke arah demonstran. Setidaknya empat anggota pasukan keamanan juga tewas.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, telah mengeluarkan peringatan tegas, menyatakan bahwa Republik Islam tidak akan mundur menghadapi 'para perusak'. Dalam pidatonya pada Jumat (9/1), ia menggambarkan demonstrasi besar-besaran sebagai sabotase yang diilhami oleh pihak asing.

Merujuk pada kerusakan properti di Teheran, dia mengatakan para demonstran telah menghancurkan bangunan mereka sendiri 'hanya untuk menyenangkan presiden Amerika Serikat Trump'.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Siapkan Rp2 Triliun Rehabilitasi Ribuan Sekolah Terdampak Bencana di Aceh
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
Megawati Kecam Penculikan Presiden Maduro Oleh AS: Ingkari Piagam PBB
• 7 jam laluidntimes.com
thumb
Kasus Isu Ijazah Palsu Jokowi, PSI Desak Polisi Segera Tahan Roy Suryo Cs
• 16 jam lalusuara.com
thumb
Menteri Mukhtarudin Memfasilitasi Pemulangan Jenazah Pekerja Migran Agus Ahmadi
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Megawati Tuding Bencana di Sumatera Akibat Karpet Merah Konsesi
• 6 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.