Pasar saham Amerika Serikat berada dalam tekanan pada perdagangan Senin (12/1) pagi waktu setempat. Hal ini menyusul serangkaian kebijakan dan retorika keras dari pemerintahan Trump yang memicu kekhawatiran atas independensi bank sentral negeri Paman Sam itu, The Fed.
Kontrak berjangka Wall Street melemah secara merata. S&P 500 E-minis terkoreksi 0,66% ke level 6.959 poin. Dow E-minis merosot 0,72% atau 359 poin, dan Nasdaq 100 E-minis turun 0,88%.
Reuters melansir, sentimen negatif ini berakar dari ancaman Pemerintah AS untuk mendakwa Ketua The Fed, Jerome Powell, atas dugaan memberikan kesaksian bohong kepada Kongres terkait proyek renovasi gedung pusat bank sentral itu di Washington DC. Langkah hukum tersebut dinilai pasar sebagai upaya sistematis Presiden Donald Trump untuk mengintervensi kebijakan moneter dan memaksakan pemangkasan suku bunga tajam sejak ia duduk kembali di Gedung Putih pada Januari 2025.
Selain tekanan terhadap bank sentral, sektor keuangan Wall Street turut terpukul oleh usulan regulasi baru yang membatasi suku bunga kartu kredit di angka 10% selama satu tahun mulai 20 Januari mendatang. Kebijakan ini memicu aksi jual pada saham-saham perbankan besar di perdagangan pra-pasar. JPMorgan Chase anjlok 4%, diikuti Citigroup yang turun 3%, dan Bank of America yang melemah 2,5%.
Dampak lebih parah dirasakan oleh perusahaan pembiayaan konsumen seperti Synchrony Financial, Bread Financial, dan Capital One yang merosot tajam di kisaran 10,5% hingga 11,6%. Sementara raksasa kartu kredit American Express terkoreksi 4,8%.
Di tengah ketegangan politik, fokus investor juga tertuju pada laporan pendapatan kuartal keempat yang akan dibuka oleh JPMorgan Chase pada Selasa (13/1) waktu AS. Padahal, pekan sebelumnya S&P 500 dan Dow baru saja menutup awal tahun 2026 pada level rekor.
Saat ini, lembaga keuangan global seperti JP Morgan, Barclays, dan Goldman Sachs terpantau mulai menunda prediksi kenaikan suku bunga setelah data tenaga kerja terbaru AS menunjukkan stabilitas yang lebih baik dari perkiraan. Kini, perhatian pasar beralih sepenuhnya pada laporan inflasi harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada Selasa sebagai indikator utama penentu langkah moneter The Fed selanjutnya.
Di sisi sektoral, ketegangan antara Gedung Putih dan korporasi meluas ke industri energi setelah Trump mengancam untuk memblokir investasi Exxon Mobil di Venezuela. Ancaman ini menjadi respons atas pernyataan CEO Exxon Mobil, Darren Woods, yang menyebut Venezuela sebagai wilayah yang tidak layak investasi, yang berujung pada penurunan saham Exxon sebesar 1%.
Namun, di tengah tren negatif pasar, Walmart justru mencatatkan kenaikan saham sebesar 3,3%. Penguatan ini didorong oleh momentum bergabungnya perusahaan ritel raksasa tersebut ke dalam indeks Nasdaq-100 pada 20 Januari nanti, menyusul perpindahan pencatatan sahamnya dari NYSE ke Nasdaq bulan lalu.
.jpg)



