RI Berpotensi Surplus Solar di 2026, Ini Dua Faktor Pendukungnya

idxchannel.com
11 jam lalu
Cover Berita

Tidak hanya menghentkan impor, namun Indonesia berpotensi mencatat surplus solar sebesar 1,4 juta kiloliter (kl).

RI Berpotensi Surplus Solar di 2026, Ini Dua Faktor Pendukungnya. (Foto Istimewa)

IDXChannel — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Indonesia akan menyetop impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada tahun ini. Bahkan, tidak hanya menghentkan impor, namun Indonesia berpotensi mencatat surplus solar sebesar 1,4 juta kiloliter (kl).

Bahlil menyebut proyeksi tersebut tercermin dari perhitungan produksi dan konsumsi solar nasional. Pada 2025, konsumsi solar dalam negeri mencapai sekitar 38 juta kl, di mana 5 juta kl di antaranya masih dipenuhi dari impor.

Baca Juga:
Jelang Peresmian RDMP Balikpapan, Stok BBM Solar Kini Masih Gunakan Kuota Impor 2025

Namun, Bahlil menegaskan, produksi solar domestik tahun ini mampu menutup, bahkan melampaui, kebutuhan impor tersebut.

“Impor (solar) kita tinggal 5 juta kl, jadi sudah tertutupi. Bahkan, surplus 1,4 juta kl,” ujar Bahlil di Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Baca Juga:
Ada Program B40, Impor Solar RI Turun 3 Juta Ton di 2025

Dia kemudian mengungkapkan dua alasan mengapa Indonesia akan mencapai surplus tersebut.

Baca Juga:
Bahlil Targetkan Stop Impor Solar Mulai Semester II-2026

Pertama, pemerintah akan menerapkan kebijakan biodiesel B50 pada tahun ini, yang merupakan kelanjutan dari kebijakan biodiesel B40 di tahun lalu. Biodiesel B50 sendiri merupakan bahan bakar nabati (BBN) dengan komposisi 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar.

"Jika komposisi minyak sawit semakin besar, maka kebutuhan solar bisa semakin ditekan," katanya.

Kedua, modernisasi kilang minyak atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan turut memperkuat kapasitas produksi domestik. Kilang tersebut ditargetkan mampu memproduksi 1,8 juta kl solar per tahun dan menekan impor hingga Rp14,9 triliun.

“Alhamdulilah atas perintah Bapak Presiden, mulai sekarang yang kita bicarakan ini tidak ada lagi impor solar ke depan,” kata dia.

Meski demikian, dia menegaskan, surplus tersebut berlaku untuk solar dengan spesifikasi standar cetane number (CN) 48. Indonesia masih akan mengimpor solar dengan spesifikasi CN 51 yang umumnya digunakan sektor industri, meskipun volumenya relatif kecil.

“Sementara (solar) C51, impor kita itu hanya 600 ribu kl. Nanti di semester kedua, saya minta Pertamina untuk membangun agar tidak kita impor,” ujar Bahlil.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Ingin Pembangunan Gedung Legislatif–Yudikatif IKN Rampung 2028
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cara Mengolah Kentang Tanpa Mengurangi Nutrisi, Nikmati dengan Kulitnya
• 20 jam lalugenpi.co
thumb
KPK Geledah Kantor Pusat Ditjen Pajak, Usut Korupsi 'Diskon' Pajak Rp60 Miliar
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Pemerintah Siapkan Diskon Tiket Pesawat untuk Mudik Lebaran 2026
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
RDMP Balikpapan Diresmikan, Pemerintah Yakin Bakal Stop Impor Solar
• 23 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.