Lebih Tersinggung oleh Kata Tolol daripada oleh Perilaku Tolol

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Di ruang publik hari ini, kita hidup dalam paradoks yang semakin terasa mengkhawatirkan: banyak orang lebih tersinggung ketika disebut tolol dibanding ketika benar-benar melakukan perilaku tolol. Kata dianggap sebagai musuh utama, sementara tindakan yang dampaknya jauh lebih nyata sering dibiarkan, dinormalisasi, bahkan dibela. Fenomena ini bukan sekadar soal sensitivitas bahasa, melainkan cerminan dari kemunduran cara berpikir kritis dalam masyarakat.

Pada dasarnya, kata tolol hanyalah simbol linguistik. Ia tidak melukai siapa pun secara langsung, tidak merusak sistem, tidak menghasilkan kebijakan salah, dan tidak menciptakan ketidakadilan struktural. Namun perilaku tolol yang dilakukan tanpa nalar, tanpa verifikasi, tanpa refleksi, dan tanpa tanggung jawab yang dapat menimbulkan dampak luas dan berbahaya. Ironisnya, yang sering diserang justru kata, bukan perilakunya.

Banyak orang hari ini menilai segala sesuatu dari permukaan. Seseorang dicap buruk hanya karena satu kalimat, satu potongan video, atau satu sudut pandang yang berbeda dari arus mayoritas. Padahal, menilai manusia hanya dari fragmen sempit adalah kesalahan berpikir yang mendasar. Ini bukan sikap kritis, melainkan kemalasan intelektual yang dibungkus dengan moralitas palsu. Kita seolah lebih nyaman bereaksi secara emosional daripada berpikir secara rasional.

Lebih berbahaya lagi, kondisi ini menciptakan ilusi kebaikan. Orang merasa sudah berada di posisi “benar” hanya karena tidak menggunakan kata-kata kasar, meskipun tindakannya penuh bias, prasangka, dan kesimpulan sembrono. Kita seakan lupa bahwa etika tidak berhenti pada bahasa, melainkan justru diuji pada cara berpikir dan bertindak. Bahasa yang sopan tidak otomatis melahirkan pikiran yang sehat.

Fenomena ini juga memperlihatkan betapa banyak orang yang tidak siap dikritik. Kritik dianggap serangan, perbedaan pendapat dianggap ancaman, dan pertanyaan dianggap pembangkangan. Akibatnya, kata tolol lebih menyakitkan daripada kesadaran bahwa mungkin memang ada kesalahan berpikir yang perlu diperbaiki. Padahal, masyarakat yang matang justru tumbuh dari kemampuan menerima kritik, bukan dari upaya membungkamnya.

Di sinilah masalahnya menjadi serius. Ketika perilaku tolol dibiarkan, ia akan direplikasi. Ketika pola pikir dangkal tidak dikoreksi, ia akan diwariskan. Generasi berikutnya akan tumbuh dalam budaya yang anti analisis, anti diskusi, dan anti kedalaman. Mereka akan terbiasa menarik kesimpulan cepat, menghakimi tanpa data, dan merasa benar tanpa memahami konteks. Ini sangat berbahaya bagi masa depan, karena dunia tidak dibangun oleh orang-orang yang sekadar bereaksi, melainkan oleh mereka yang mampu berpikir melampaui permukaan.

Mindset kita hari ini menentukan kualitas generasi esok. Jika standar berpikir kita hanya sebatas “yang penting tidak menyinggung”, maka kita sedang menyiapkan generasi yang sensitif secara emosional tetapi rapuh secara intelektual. Dunia nyata tidak bekerja dengan logika perasaan semata. Ia menuntut ketajaman analisis, keberanian mempertanyakan, dan kemampuan melihat persoalan dari berbagai sisi.

Menjadi kritis bukan berarti menjadi kasar, tetapi menjadi kritis berarti berani mengatakan bahwa suatu cara berpikir itu salah, berbahaya, atau tidak logis—meskipun itu tidak nyaman. Menolak perilaku tolol bukan bentuk arogansi, melainkan tanggung jawab sosial. Karena ketika kebodohan dibiarkan atas nama kenyamanan, yang kita rawat sebenarnya adalah kehancuran perlahan.

Kita harus berhenti memuja kesantunan kosong dan mulai menghargai kedalaman berpikir. Bukan berarti kata-kata tidak penting, tetapi menempatkan kata di atas substansi adalah kesalahan fatal. Dunia tidak runtuh karena satu kata kasar, tetapi ia bisa runtuh karena keputusan bodoh yang lahir dari pikiran dangkal yang tidak pernah dikritik.

Sudah saatnya kita jujur pada diri sendiri. Mungkin yang perlu kita takuti bukan orang yang menyebut tolol, melainkan diri kita sendiri ketika menolak berpikir lebih jauh. Karena pada akhirnya, ancaman terbesar bagi masyarakat bukanlah bahasa yang tajam, melainkan pikiran yang tumpul.

Penulis dari Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Fakultas Ilmu Komputer.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Terpopuler: Mantan Pacar Aurelie Moeremans hingga Khalid Basalamah Tentang Nikah tanpa Wali
• 21 jam laluinsertlive.com
thumb
KPK Geledah Kantor Pusat Ditjen Pajak, Usut Korupsi 'Diskon' Pajak Rp60 Miliar
• 44 menit lalusuara.com
thumb
Pemuda Global South Dinilai Memiliki Peran Strategis di Dunia Internasional
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rupiah Terus Melemah, Pasar Soroti Ancaman Pidana ke Ketua The Fed dan Instabilitas Politik AS
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
KPK Minta Wakil Kamtib PWNU Jelaskan Inisiatif Permintaan Kuota Haji
• 12 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.