Amazon mulai menjalankan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang sebelumnya telah diumumkan. Berdasarkan dokumen Worker Adjustment and Retraining Notification (WARN) milik perusahaan, sebanyak 1.001 hingga 2.500 posisi akan terdampak dalam gelombang PHK yang berlangsung bulan ini.
Perusahaan raksasa e-commerce tersebut sebelumnya mengungkapkan rencana PHK ini pada Oktober 2025 lalu. Amazon menyebut, sebagian besar karyawan yang terdampak akan menjalani hari kerja terakhir mereka pada akhir Januari 2026.
Beth Galetti, Senior Vice President of People Experience and Technology Amazon, mengatakan pengurangan tenaga kerja ini merupakan kelanjutan dari upaya perusahaan untuk memperkuat organisasi.
“Pengurangan yang kami sampaikan hari ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjadi lebih kuat, dengan memangkas birokrasi, menghilangkan lapisan organisasi, serta mengalihkan sumber daya agar kami dapat berinvestasi pada prioritas terbesar dan hal-hal yang paling penting bagi kebutuhan pelanggan kami, baik saat ini maupun di masa depan,” ujar Galetti.
Ia menambahkan, langkah tersebut akan mencakup pengurangan tenaga kerja di sejumlah area sekaligus perekrutan di bidang lain. Namun secara keseluruhan, Amazon akan memangkas sekitar 14.000 posisi di jajaran korporasi.
“Kami berupaya keras mendukung setiap karyawan yang terdampak, termasuk dengan memberikan sebagian besar karyawan waktu hingga 90 hari untuk mencari posisi baru secara internal (dengan penyesuaian sesuai hukum setempat). Tim rekrutmen kami juga akan memprioritaskan kandidat internal agar sebanyak mungkin orang dapat menemukan peran baru di Amazon,” jelasnya.
Lebih dari 100 perusahaan besar lainnya juga mengajukan pemberitahuan WARN untuk bulan ini, menandakan potensi gejolak ketenagakerjaan masih membayangi. Berdasarkan aturan, perusahaan wajib mengajukan pemberitahuan WARN jika berencana melakukan PHK massal atau penutupan fasilitas.
Amazon, sebagai peritel online terbesar di dunia dengan kantor pusat di Seattle, kerap menjadi cerminan tren yang lebih luas di industri teknologi maupun pasar tenaga kerja secara umum.
Sesuai ketentuan WARN Act, perusahaan dengan sedikitnya 100 karyawan wajib memberikan pemberitahuan minimal 60 hari sebelum melakukan PHK massal.
Data dari WARNTracker saat ini menunjukkan, antara 1.001 hingga 2.500 karyawan Amazon di negara bagian Washington berpotensi terkena PHK mulai 26 Januari 2026. Selain itu, karyawan di California, Virginia, dan New Jersey juga dilaporkan akan terdampak PHK tersebut.
“Amazon tidak melakukan PHK karena sedang kesulitan. Mereka melakukannya karena mereka bisa,” kata Michael Ryan, pakar keuangan sekaligus pendiri MichaelRyanMoney.com, sebagaimana dikutip Newsweek.
“Ini adalah cara kerja mesin efisiensi perusahaan publik ketika pertumbuhan melambat dan para pemegang saham menuntut margin keuntungan. Orang digantikan oleh sistem, struktur manajemen diratakan, dan biaya dipangkas dengan cepat. AI memang sering jadi sorotan, tetapi inti masalahnya adalah tenaga kerja kini diperlakukan sebagai biaya variabel, bukan investasi jangka panjang,” ujarnya.
Sejumlah perusahaan besar lain seperti FedEx, Verizon, McDonald’s, Nike, dan Wells Fargo juga dilaporkan tengah menyiapkan rencana PHK tahun ini. Sektor maskapai dan ritel pun tak luput, dengan Spirit Airlines, Louis Vuitton, H&M, Nordstrom, hingga Marshalls masuk dalam daftar perusahaan yang melakukan pengurangan tenaga kerja.
Pada akhir Desember 2025 lalu, sekitar 199.000 warga Amerika Serikat mengajukan klaim tunjangan pengangguran hanya dalam satu pekan.
Berbagai faktor memicu gelombang PHK ini. Perusahaan dinilai berupaya menekan biaya sekaligus meningkatkan efisiensi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Tahun lalu, Amazon sendiri telah melaporkan rencana pemangkasan ribuan posisi korporasi seiring meningkatnya investasi mereka di bidang AI.
Kendati begitu, Beth Galetti menegaskan bahwa Amazon sebenarnya mencatat kinerja bisnis yang kuat, meski perubahan tetap diperlukan.
“Sebagian orang mungkin bertanya mengapa kami mengurangi posisi ketika perusahaan sedang berkinerja baik. Di seluruh lini bisnis, kami terus menghadirkan pengalaman pelanggan yang luar biasa, berinovasi dengan cepat, dan mencatat hasil bisnis yang solid. Namun dunia berubah sangat cepat,” tulis Galetti.
“Generasi AI saat ini adalah teknologi paling transformatif yang pernah kita lihat sejak internet. AI memungkinkan perusahaan berinovasi jauh lebih cepat, baik di pasar yang sudah ada maupun yang benar-benar baru. Kami yakin perlu beroperasi dengan struktur yang lebih ramping, lapisan yang lebih sedikit, dan tanggung jawab yang lebih besar agar bisa bergerak secepat mungkin demi pelanggan dan bisnis,” paparnya.




