Retakan di Istana Khamenei: Rakyat Menandai Rumah Algojo, AS Siapkan Opsi ‘Sangat Keras’

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Aksi protes rakyat Iran telah berlangsung selama hampir setengah bulan dan kini memasuki fase paling berbahaya sejak Revolusi Islam 1979. Gelombang perlawanan yang terus membesar di berbagai kota tidak hanya mengguncang stabilitas internal Iran, tetapi juga mendorong Amerika Serikat untuk secara terbuka mengisyaratkan kemungkinan langkah intervensi.

Seruan Terbuka di Washington: “Akhiri Semua Ini”

Pada 11 Januari 2026, Senator Amerika Serikat, Lindsey Graham dalam wawancara dengan Fox News mengangkat sebuah topi bertuliskan “Make Iran Great Again”. Dalam pernyataan yang sangat keras, Graham secara langsung menyerukan Presiden Donald Trump agar mengambil tindakan tegas terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

“Presiden, jika saya berada di posisi Anda, saya akan menyingkirkan para pemimpin yang telah menyiksa rakyatnya sendiri. Anda harus mengakhiri semua ini,” ujar Graham.

Pernyataan tersebut menandai meningkatnya tekanan politik di dalam negeri AS agar Washington tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga langkah konkret terhadap rezim Iran.

Trump: Kontak dengan Oposisi dan Opsi “Sangat Keras”

Masih pada 11 Januari, Presiden Trump, dalam wawancara di atas pesawat Air Force One, mengonfirmasi bahwa pemerintahannya telah menjalin kontak langsung dengan para pemimpin oposisi Iran.

Trump menegaskan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan berbagai opsi ekstrem:

“Kami sedang mempertimbangkan sejumlah opsi yang sangat keras. Kami akan mengambil keputusan. Beberapa demonstran tewas karena terinjak-injak, jumlah massa terlalu besar, dan ada juga yang ditembak. Kami sedang mengumpulkan laporan lengkap. Setiap jam saya menerima pembaruan terbaru, lalu kami akan mengambil keputusan.”

Dia juga menambahkan bahwa situasi di Iran berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan siapa pun.

“Menurut saya, rakyat sedang mengambil alih beberapa kota. Hal seperti ini beberapa minggu lalu hampir tak terbayangkan. Ini tidak berarti mengirim pasukan darat, tetapi berarti memberikan pukulan yang sangat, sangat keras tepat di titik paling menyakitkan mereka.”

Sinyal Militer: Aktivitas Udara AS Mendekati Iran

Pada 12 Januari 2026, Channel 14 Israel melaporkan bahwa setelah Gedung Putih mengunggah pernyataan berbunyi “Tuhan memberkati militer kita. Tuhan memberkati Amerika. Dan ini baru permulaan,” aktivitas militer Amerika Serikat mulai terdeteksi meningkat drastis di kawasan Timur Tengah.

Beberapa pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135R serta pembom strategis B-52 dilaporkan lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Data intelijen sumber terbuka dan pelacakan penerbangan juga menunjukkan bahwa sebelumnya sejumlah KC-135R dan pesawat angkut berat C-17 Globemaster telah dipindahkan dari Amerika Serikat dan pangkalan Inggris ke basis tersebut.

Pengerahan ini dinilai sangat signifikan karena pola dan ritmenya menyerupai fase awal operasi ‘Midnight Hammer ” pada Juni 2025. Dalam skenario militer modern, KC-135R berperan krusial untuk memungkinkan operasi jarak jauh pesawat tempur dan pembom strategis seperti B-52 dan F-35.

Masih pada 12 Januari, sejumlah akun pengamat militer berbasis pelacakan penerbangan sipil melaporkan bahwa sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 milik Angkatan Udara AS terdeteksi memasuki wilayah udara Iran—sebuah sinyal yang jarang terjadi dan sarat makna strategis.

Perlawanan Rakyat Mengeras: Penandaan Rumah dan Pertempuran Jalanan

Di dalam negeri, fokus kemarahan rakyat Iran semakin mengarah kepada aparat dan algojo yang setia kepada Pemimpin Tertinggi. Sebuah video yang bocor dari Iran memperlihatkan para demonstran, pada malam hari, menggunakan cat merah untuk menandai pintu rumah-rumah tertentu.

Tulisan dalam bahasa Persia pada video tersebut berbunyi: “Kalian menindas kami dengan kekerasan di jalanan. Kami akan menemukan rumah kalian.”

Rekaman lain menunjukkan bahwa meskipun sebagian wilayah Teheran sempat dikuasai massa, pasukan pemerintah belum sepenuhnya menyerah. Di kawasan Sadeghieh, aparat keamanan kembali memasuki kota untuk menekan demonstrasi, namun menghadapi perlawanan sengit hingga akhirnya dipukul mundur dan tercerai-berai. Beberapa kendaraan pasukan keamanan dilaporkan dihancurkan oleh massa.

Sebuah rekaman percakapan telepon dari Provinsi Ilam yang beredar luas di internet memperdengarkan suara seseorang yang mengaku terlibat dalam operasi penindasan. Dia menggambarkan wilayah tersebut telah berubah menjadi “zona perang”, bus mereka dihancurkan, dan bersumpah bahwa para ulama berkuasa telah melarikan diri dari negara itu.

Urmia dan Retakan Serius Aparat

Menurut laporan media oposisi Iran, Simaye Azadi, pada malam 10 Januari 2026, sekelompok pemuda di kota strategis Urmia, Iran barat laut, menyerbu dan menduduki sebuah pangkalan organisasi paramiliter di bawah Garda Revolusi Islam. Peristiwa ini dianggap sangat serius karena mencerminkan runtuhnya kontrol keamanan di tingkat lokal.

Jika dianalogikan, tindakan tersebut setara dengan sekelompok pemuda menduduki markas satuan Polisi Bersenjata di wilayah sensitif.

Kemunculan Retakan Internal dan Reaksi Global

Perlawanan rakyat Iran juga menarik perhatian luas komunitas internasional, termasuk komunitas berbahasa Mandarin. Banyak pihak menilai rakyat Iran kini menjadi simbol keberanian nyata melawan tirani.

Seorang warga Iran menulis di platform X bahwa di Kota Shax, warga menggunakan buldoser untuk merobohkan kantor gubernur rezim dan patung Qasem Soleimani. Dia menambahkan bahwa bahkan di kota kecil tersebut, jalanan dipenuhi massa.

Di sisi lain, kemarahan sebagian demonstran juga diarahkan kepada Beijing. 

Sebuah video memperlihatkan warga membakar foto Xi Jinping dan Khamenei, disertai tulisan: “Matilah Khamenei. Gulingkan Xi Jinping, dalang di balik layar.”

The Economist: Opsi ‘Korbankan Pemimpin’

Pada 11 Januari 2026, majalah The Economist mempublikasikan unggahan di platform X yang mengguncang banyak pengamat: “Sejumlah pejabat Iran sedang mempertimbangkan solusi ala Venezuela—mengorbankan pemimpin tertinggi demi menyelamatkan sistem dan mencegah kekacauan.”

Pernyataan ini dipandang sebagai indikasi paling jelas bahwa retakan besar telah muncul di dalam tubuh rezim Iran sendiri.

Reza Pahlavi: ‘Rakyat Iran Tidak Berjuang Sendirian’

Dalam wawancara dengan Fox News pada 11 Januari, Putra Mahkota terakhir Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, secara terbuka menyerukan kerja sama dengan Presiden Trump.

Dia menyatakan bahwa Trump berbeda secara fundamental dari Barack Obama dan Joe Biden—seorang pemimpin yang berani menghadapi kekuatan jahat dan berkomitmen pada perdamaian.

Menurut Pahlavi, rakyat Iran percaya bahwa kali ini Amerika Serikat tidak akan mengkhianati mereka. Bahkan, di dalam negeri, ada warga yang mengganti nama jalan dengan nama Trump sebagai simbol harapan.

“Membebaskan Iran dan membuat Iran kembali berjaya adalah warisan politik yang dapat mengukir nama Trump secara permanen dalam sejarah,” tegas Pahlavi.

Informasi Terbatas, Media Dipertanyakan

Hingga kini, memperoleh informasi utuh mengenai skala sebenarnya dari aksi protes di Iran tetap sangat sulit. Pemerintah Iran telah memutus internet selama berhari-hari, sementara sikap media internasional juga menuai kritik.

Seorang netizen menggambarkan situasi ini secara tajam: “Separuh media arus utama melaporkan situasi Iran dengan keterlambatan setidaknya tiga hari, atau bahkan mengabaikan apa yang sedang terjadi. Separuh lainnya seperti burung beo, mengulang propaganda rezim Islam.”


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Megawati Tolak Pilkada lewat DPRD, Inkonsisten dengan Putusan MK
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Siapa Clare Herdman? Istri Cantik Pelatih Baru Timnas Indonesia yang Rela Ikut Pindah ke Tanah Air
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Soroti Tingginya Politik Uang, Komisi II DPR Usul Bawaslu Awasi Pilkades
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
LPEM UI Ungkap Masyarakat Ingin Harga Mobil Baru Ditekan 10 Persen
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Lucas Paqueta ingin kembali ke Brasil
• 14 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.