Kisah Warung Legendaris Bu Tatang, Sandaran Mahasiswa yang Lapar di Bandung

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kantin Ibu Tatang di kawasan Sekeloa, Kota Bandung, mungkin tampak seperti rumah makan biasa. Namun, bagi sebagian mahasiswa dan pekerja sekitar Dipati Ukur, warung milik Ibu Tatang ini menjadi ruang penuh kenangan yang sudah hadir sejak tahun 1990-an.

Awalnya warung ini menyajikan menu yang terbilang lengkap. Ada gepuk, ayam bakar, hingga sop iga, yang menyesuaikan dengan pelanggan yang sering datang ke tempat ini yakni dosen dan mahasiswa S2 dari kampus sekitar.

"Warung ini teh deket sama kampus Unpad, ITB, sama Unikom. Sama paling ya karyawan kantor sekitar Dipati Ukur yang dateng ke sini," ujar Dede anak dari Ibu Tatang yang bantu mengelola warung makan, saat ditemui kumparan, Selasa (13/1).

Seiring berjalannya waktu, kini menu berubah mengikuti pelanggan mayoritas yaitu mahasiswa yang masih mengandalkan kiriman uang dari orang tuanya.

Sekarang hidangannya sederhana, mulai dari ayam goreng, ikan mas, ikan nila, tempe mendoan, perkedel jagung dan telur dadar daging yang menjadi favorit mahasiswa.

"Kita bukanya dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Mulai masak dari jam 6, jadi dateng dari pasar jam 6 terus kita olah di sini langsung," katanya.

Selain makanan, suasana warung ini punya daya tarik tersendiri. Ada kedekatan personal yang sengaja dipertahankan sejak dulu.

"Kita di sini kaya rumah sendiri aja, ada mahasiswa yang makan dulu bayarnya nanti setelah dapet kiriman dari orang tua. Makanya kan yang udah alumni-alumni teh dateng lagi ke sini bawa anaknya yang ternyata kuliahnya di sekitar sini juga," ucapnya.

Harga menu makan di warung ini juga cukup terjangkau, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu saja untuk paket lengkap. Hal ini yang membuat mahasiswa datang silih berganti.

Soal omzet, Dede, tidak mau mengungkapkan secara detail. Dia mensyukuri berapa pun penghasilan yang didapat.

Alya dan Rian, yang ditemui kumparan di Warung Bu Tatang, mengaku memang kerap ke sini meski mereka sudah bekerja. Rian, dulunya merupakan mahasiswa di ITB, menyebut warung ini jadi tempat favoritnya untuk mengusir rasa lapar.

"Karena sering ke sini jadi tahu," ucap Rian.

Begitu juga dengan Alya. "Penyelamat dalam dompet kering gitu kan. Kayak waktu itu kita makan banyak sih, kayak ngambil lauknya, nasinya dikasih sebakul kan cocok banget lah pokoknya," ucap Alya.

Bertahan lebih dari tiga dekade tanpa memperluas usaha atau membuka cabang. Kantin Ibu Tatang tak hanya menyajikan makanan rumahan, tapi juga membangun suasana rumah yang hangat bagi mahasiswa.

Warung ini membuktikan bahwa kehangatan dan ketulusan bisa jadi resep yang bisa membuat pelanggan terus berdatangan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BNPB dampingi Sumatera Utara susun R3P pascabencana sektor hunian
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Ramalan Zodiak Besok, 14 Januari 2026: Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, dan Virgo
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Menag Nasaruddin Umar Tekankan Efisiensi Anggaran dan Kesiapan Data Program Kementerian Agama 2026
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Internet Diputus Berhari-hari! Media Iran di Luar Negeri Ungkap Kebrutalan Penindasan, 2.000  Orang Dilaporkan Tewas
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Presiden Iran Janji Dengar Tuntutan Rakyat untuk Perbaiki Ekonomi
• 10 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.