Emilia Clarke Akui Alami Kehancuran Mental Usai Game of Thrones Berakhir

tabloidbintang.com
3 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Emilia Clarke mengaku mengalami kehancuran mental setelah serial Game of Thrones berakhir.

Aktris berusia 39 tahun itu melejit ke puncak popularitas lewat perannya sebagai Daenerys Targaryen dalam serial fantasi tersebut, yang tayang dari 2011 hingga 2019. Namun di balik kesuksesan besar itu, Emilia mengaku melalui masa yang sangat berat. Ia bahkan menyebut pandemi Covid-19 sebagai momen yang ia syukuri, karena memberinya waktu untuk berhenti sejenak dan merenungkan satu dekade kehidupannya—periode yang juga diwarnai dua kali pendarahan otak serta kepergian sang ayah pada 2016.

Dalam wawancara dengan The New York Times, Emilia mengatakan, “Itu adalah pertama kalinya dalam hidup profesional saya benar-benar berhenti.”

Ia melanjutkan, “Saya mengalami kehancuran mental total. Rasanya waktu pandemi itu sangat tepat datangnya.”

Menurut Emilia, situasi tersebut memaksanya menjawab berbagai pertanyaan besar tentang hidup dan karier. “Selama syuting Game of Thrones, tidak pernah ada waktu untuk berhenti dan memikirkan maknanya. Saya tidak pernah punya pandangan ke depan untuk berpikir, ‘Kamu akan butuh waktu sejenak nanti,’” ujarnya.

Bintang film Last Christmas itu juga mengaku kecil kemungkinan dirinya akan kembali membintangi proyek fantasi. “Sangat kecil kemungkinan kalian akan melihat saya menunggangi naga, atau bahkan berada dalam satu frame dengan naga, untuk selamanya,” katanya.

Emilia juga mengungkapkan sempat ragu menerima peran terbarunya sebagai Bea dalam serial mata-mata Ponies, karena khawatir dengan besarnya komitmen yang harus dijalani. “Saya benar-benar berpikir, ‘Peran utama di serial TV? Saya tahu seperti apa rasanya komitmen itu,’” tuturnya.

Namun, ia akhirnya yakin karena dalam proyek tersebut ia diberi kebebasan memilih karakter utama yang ingin diperankannya. “Saya merasa mereka memberi saya suara, sesuatu yang tidak selalu saya dapatkan,” katanya.

Aktris The Terminator: Genisys itu mengakui bahwa pada awal kariernya ia nyaris tidak memiliki kendali atas pilihan-pilihannya. “Setelah Game of Thrones, butuh waktu lama untuk menyadari bahwa saya bisa mencoba memiliki otonomi atas pilihan dan pekerjaan saya. Banyak bagian dari karier saya tidak mencerminkan selera saya. Saya seperti ditembakkan dari meriam,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam upaya menembus industri, kata “tidak” seolah tidak ada dalam kamus. “Kamu hanya mengatakan ya untuk segalanya,” katanya.

Di sisi lain, Emilia menilai ketenarannya kerap terasa “membuat frustrasi”, terutama dalam berinteraksi dengan orang lain. “Saya tidak pernah benar-benar bertemu seseorang untuk pertama kalinya, karena mereka tidak menjadi diri mereka sendiri. Selalu ada sesuatu yang menghalangi interaksi,” ujarnya.

Padahal, menurut Emilia, ia adalah sosok yang hidup dari interaksi dengan orang lain. “Itu bisa sangat membuat frustrasi, karena pekerjaan saya sepenuhnya soal berkomunikasi. Dan satu-satunya waktu saya benar-benar bisa melakukan itu adalah ketika saya sedang menjadi orang lain,” tutupnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Keluarga Punya Peran Penting Cegah Perkawinan pada Anak
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sebelum Syafiq Ali Ditemukan, Sang Ayah Cari Anaknya di Gunung Slamet dengan Berbekal Tongkat: Pulang, Nak!
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Fenomena Peristiwa Isra dan Mi’raj
• 8 jam lalufajar.co.id
thumb
Sambangi Korban Banjir di Serang, Jazuli Juwaini Pastikan Bantuan Tersalurkan
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jokowi Harap Restoratif Justice, Usai Bertemu Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis
• 19 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.