JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, rehabilitasi wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) menjadi prioritas utama dalam upaya membangun kembali kawasan terdampak bencana Sumatera.
Hal tersebut disampaikan AHY dalam rapat koordinasi Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
“Terkait dengan urusan lahan dan tata ruang. Saya rasa bagian utama dari membangun lebih baik ini sangat bergantung pada tata ruang wilayah yang benar-benar sesuai dengan peruntukannya,” kata AHY, Kamis.
Baca juga: Pemerintah Rapat Koordinasi soal Bencana Sumatera, Dihadiri Pratikno, Mualem, hingga AHY
“Dan kita harus berani mengevaluasi tata ruang sehingga berbasis pada mitigasi dan adaptasi terhadap bencana. Dalam konteks ini, prioritasnya adalah rehabilitasi hulu daerah aliran sungai,” ujar dia.
Menurut AHY, langkah ini krusial untuk mencegah risiko bencana berulang sekaligus memastikan pembangunan dilakukan secara berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan relokasi bagi rumah warga yang dinilai tidak memungkinkan untuk dibangun kembali di lokasi awal karena alasan keselamatan.
Baca juga: Mendagri Ungkap 1.990 Orang Tewas akibat Bencana di Sumatera
Proses relokasi akan didukung dengan pendataan kebutuhan lahan serta verifikasi status tanah agar benar-benar bersih dan jelas sebelum ditetapkan sebagai hunian tetap bagi warga terdampak.
“Dan yang terakhir tentunya terkait dengan normalisasi pelayanan pertanahan agar menjemput bola. Para petugas BPN tentunya bisa melakukan upaya ini, datang ke warga, para pengungsi agar prosesnya lebih cepat,” tegas dia.
Korban bencana SumateraMenteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan 1.990 orang wafat akibat rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
"Setidaknya per 14 Januari, 1.990 yang wafat, yang hilang 141 orang," ujar Tito dalam rapat penanganan pascabencana Sumatera, Kamis.
Baca juga: Warga Masih Hidup di Tengah Lumpur, Pidie Jaya Perpanjang Status Tanggap Darurat Bencana
Bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan ratusan ribu rumah, serta dampak luas terhadap fasilitas publik dan pemerintahan daerah.
Tito menjelaskan, jumlah pengungsi yang semula mencapai lebih dari 2 juta jiwa kini berkurang signifikan menjadi sekitar 131.500 orang seiring proses penanganan dan pemulihan.
Mendagri mencatat sebanyak 175.050 rumah rusak dengan berbagai tingkat keparahan.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum turut terdampak, mulai dari rumah ibadah, fasilitas kesehatan, gedung perkantoran, hingga sarana pendidikan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



