Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyampaikan kenaikan dana riset nasional akan diarahkan untuk mendukung penelitian di sektor pangan, ketahanan energi, serta penguatan industri strategis sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
"Tentu sesuai dengan arah Bapak Presiden, Bapak Presiden fokus pada pangan. Jadi pangan ini, swasembada beras sudah tercapai, sebentar lagi jagung, kemudian yang penting lagi adalah bawang putih, kemudian juga kedelai, serta produk-produk protein hewani, seperti apa? Seperti susu, sapi, dan lain sebagainya," kata Arif Satria di Jakarta, Kamis.
Hal itu disampaikan Arif saat menjawab pertanyaan wartawan usai mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan para rektor dan guru besar perguruan tinggi negeri dan swasta di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Arif menjelaskan bahwa Presiden Prabowo menyampaikan komitmen peningkatan dana penelitian sekitar 50 persen dari anggaran saat ini yang berada di kisaran Rp8 triliun atau sekitar 0,3 persen dari produk domestik bruto. Artinya, terdapat tambahan alokasi anggaran penelitian hingga Rp4 triliun.
Menurut Arif, kenaikan anggaran tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap berbagai program strategis nasional, mulai dari peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, hingga penciptaan lapangan kerja.
Penguatan riset, kata dia, juga penting untuk menopang proyek-proyek strategis hilirisasi.
Baca juga: Prabowo tambah anggaran riset Rp4 triliun untuk perguruan tinggi
Baca juga: Kepala BRIN tegaskan riset harus berdampak bagi pembangunan ekonomi
Arif menambahkan riset di bidang pangan menjadi prioritas utama untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Selain pangan, riset yang mendukung ketahanan dan transisi energi juga menjadi perhatian, terutama pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Arif menambahkan dana riset juga akan diarahkan untuk penguatan industri strategis, baik industri berbasis teknologi tinggi maupun industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, seperti tekstil, sepatu, elektronik, dan semikonduktor, guna meningkatkan daya saing nasional.
"Jadi, dengan serapan tenaga kerja yang banyak, seperti industri sepatu, industri tekstil, industri elektronik, semikonduktor, ya, itu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga itu harus diselamatkan. Sehingga kita diharapkan memiliki kekuatan daya saing dalam industri-industri itu," ucapnya.
Arif mengatakan BRIN saat ini juga sedang mempersiapkan penguatan riset di sektor-sektor tersebut, termasuk di bidang dirgantara melalui percepatan riset pesawat N219 hasil kerja sama BRIN dan PT Dirgantara Indonesia, juga pengembangan pesawat amfibi untuk memperkuat konektivitas antarpulau.
"Dan itu akan sangat bagus dan membanggakan, karena itulah cara kita untuk meningkatkan konektivitas antar pulau di Indonesia," imbuhnya.
Baca juga: Di hadapan para rektor, Prabowo tambah dana riset total jadi Rp12 T
Baca juga: Stella: Peneliti menang hibah riset dapat insentif finansial langsung
"Tentu sesuai dengan arah Bapak Presiden, Bapak Presiden fokus pada pangan. Jadi pangan ini, swasembada beras sudah tercapai, sebentar lagi jagung, kemudian yang penting lagi adalah bawang putih, kemudian juga kedelai, serta produk-produk protein hewani, seperti apa? Seperti susu, sapi, dan lain sebagainya," kata Arif Satria di Jakarta, Kamis.
Hal itu disampaikan Arif saat menjawab pertanyaan wartawan usai mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan para rektor dan guru besar perguruan tinggi negeri dan swasta di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Arif menjelaskan bahwa Presiden Prabowo menyampaikan komitmen peningkatan dana penelitian sekitar 50 persen dari anggaran saat ini yang berada di kisaran Rp8 triliun atau sekitar 0,3 persen dari produk domestik bruto. Artinya, terdapat tambahan alokasi anggaran penelitian hingga Rp4 triliun.
Menurut Arif, kenaikan anggaran tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap berbagai program strategis nasional, mulai dari peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, hingga penciptaan lapangan kerja.
Penguatan riset, kata dia, juga penting untuk menopang proyek-proyek strategis hilirisasi.
Baca juga: Prabowo tambah anggaran riset Rp4 triliun untuk perguruan tinggi
Baca juga: Kepala BRIN tegaskan riset harus berdampak bagi pembangunan ekonomi
Arif menambahkan riset di bidang pangan menjadi prioritas utama untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Selain pangan, riset yang mendukung ketahanan dan transisi energi juga menjadi perhatian, terutama pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Arif menambahkan dana riset juga akan diarahkan untuk penguatan industri strategis, baik industri berbasis teknologi tinggi maupun industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, seperti tekstil, sepatu, elektronik, dan semikonduktor, guna meningkatkan daya saing nasional.
"Jadi, dengan serapan tenaga kerja yang banyak, seperti industri sepatu, industri tekstil, industri elektronik, semikonduktor, ya, itu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga itu harus diselamatkan. Sehingga kita diharapkan memiliki kekuatan daya saing dalam industri-industri itu," ucapnya.
Arif mengatakan BRIN saat ini juga sedang mempersiapkan penguatan riset di sektor-sektor tersebut, termasuk di bidang dirgantara melalui percepatan riset pesawat N219 hasil kerja sama BRIN dan PT Dirgantara Indonesia, juga pengembangan pesawat amfibi untuk memperkuat konektivitas antarpulau.
"Dan itu akan sangat bagus dan membanggakan, karena itulah cara kita untuk meningkatkan konektivitas antar pulau di Indonesia," imbuhnya.
Baca juga: Di hadapan para rektor, Prabowo tambah dana riset total jadi Rp12 T
Baca juga: Stella: Peneliti menang hibah riset dapat insentif finansial langsung




