Mengapa Tarot Jadi Solusi Gen Z Mengurangi Depresi? Ini Kata Psikolog Unair

suarasurabaya.net
5 jam lalu
Cover Berita

Unik dan tidak biasa, nampaknya jadi karakter yang melekat pada generasi Z. Karakter ini membuat perbincangan mengenai Gen Z tiada habisnya.

Universitas Airlangga (Unair) menyoroti cara Gen Z menghadapi situasi yang memicu depresi, yaitu dengan menggunakan kartu tarot. Tarot tidak jarang jadi pilihan untuk mengurangi rasa gelisah, baik karena hal yang sudah atau belum terjadi.

Dian Kartika Amelia Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair) menyoroti tren tersebut dari prespektif psikologi. Meski tren ini sudah terjadi sejak generasi sebelumnya, Dian menyoroti mengapa Gen Z masih menggandrunginya?

“Dari perspektif psikologi, salah satu cara individu atau Gen Z, ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” jelas Dian dalam rilis Humas Unair yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (16/1/2026).

Pembacaan tarot dapat memicu khayalan akan masa depan atau apa yang terjadi pada individu tersebut. Efek ini mengurangi kecemasan dan jadi salah satu coping mechanism.

“Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” tuturnya.

Ketika seseorang terlalu mengandalkan tarot, dia akan merasa apa yang terjadi adalah takdir dan tidak berusaha memperbaiki keadaan. Hal ini disebut self-fulfilling prophecy.

“Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi, tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya.” ungkapnya.

Dian menyarankan, belajar mengelola stress dengan journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan bergizi dan rutin olahraga. Namun saat seseorang tidak mampu menghadapi krisis emosional, lebih baik meminta bantuan psikolog atau psikiater untuk mendapat penanganan profesional.(lea)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Aktivis Laras Faizati Dinyatakan Bebas Bersyarat: Divonis 6 Bulan Tanpa Ditahan
• 21 jam lalubeautynesia.id
thumb
IHSG Ditutup Menguat di Tengah Tekanan Regional Asia, Pelaku Pasar Nantikan RDG BI
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Libur Panjang Isra Mi’raj, Gerbang Tol Pasteur Bandung Padat Kendaraan Wisatawan
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Komisi II DPR Nilai Semua Opsi Sistem Pilkada, Bukan Hal Mustahil
• 12 jam lalugenpi.co
thumb
Ressa Rizky Rossano Ternyata Pernah ke Rumah Denada, Disuruh Tunggu 3,5 Jam di Depan Pintu dan Tak Bertemu
• 2 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.