Media sosial sempat diramaikan tentang sejumlah efek negatif dari berbagai kontrasepsi hormonal pada wanita. Mulai dari pil KB rawan menyebabkan kanker, KB IUD bisa bikin perdarahan dan ‘jalan-jalan’ ke organ lain, KB suntik dapat merusak hormon, dan masih banyak lagi. Tetapi, benar nggak sih narasi soal efek samping kontrasepsi tersebut?
Sebelum itu, penting untuk memahami bahwa terdapat berbagai jenis kontrasepsi tersedia bagi perempuan untuk mengendalikan atau mengatur jarak kehamilan. Kontrasepsi sendiri terbagi menjadi dua, yaitu hormonal dan tidak hormonal.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Andrew Yurius Christian, SpOG, menjelaskan, kontrasepsi hormonal yang sering dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya penyakit kanker.
"Yang hormonal sendiri itu yang sering direlasikan dengan kemungkinan munculnya kanker, tapi nggak semua kanker. Jadi kanker payudara dan kanker serviks," tutur dr. Andrew dalam program Ask The Expert kumparanMOM.
Di sisi lain, kontrasepsi juga sebenarnya bisa menurunkan risiko beberapa jenis kanker, antara lain kanker ovarium, kanker rahim, hingga kanker endometrium.
Alasan Sebaiknya Kontrasepsi Hormonal Tidak Digunakan Jangka PanjangMenurut dr. Andrew, meski risiko kanker tetap ada, tetapi angkanya kejadiannya disebut tidak mencapai 20 persen, Moms. Namun, sebagai bentuk pencegahan, Anda disarankan tidak menggunakan kontrasepsi hormonal secara terus-menerus.
"Penggunaan KB hormonal itu ditambahkan dari luar secara terus-menerus dengan hormon yang sama. Penambahan hormonal ini yang bisa memancing pertumbuhan sel yang jika memang ada risiko (kanker)-nya," ungkapnya.
Berapa tahun spesifiknya dikatakan tidak boleh digunakan dalam jangka panjang? dr. Andrew menyebut penggunaan di atas lima tahun atau lebih.
"Itu meningkat jadi 20 persenan. Tapi kalau misalnya kita pakai di bawah 2 tahun, mungkin cuma di bawah 7 persen," tegas dr. Andrew.
"KB hormonal tapi penggunaannya jangka panjang, nah itu mungkin nggak disarankan. Karena kan semakin lama semakin tinggi risikonya untuk terpapar, kemungkinan risiko cancer ini. Tapi, nggak semua orang ya," lanjut dia.
Itulah mengapa penting untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter terkait kontrasepsi mana saja yang kira-kira cocok untuk digunakan.
Nantinya, dokter akan menanyakan beberapa hal kepada pasien, antara lain: riwayat kesehatan, fungsi KB-nya untuk pemakaian berapa lama, target penggunaan KB, efek samping yang dihindari, dan riwayat penyakit dalam keluarga.
"Seandainya nih kita tanya, 'Oh iya dok saya ternyata ada riwayat cancer payudara pada mama saya, atau pada keluarga perempuan, di keluarga intinya. Nah, itu kita tidak akan menyarankan untuk menggunakan KB kontrasepsi hormonal. Mungkin kita akan coba untuk pendekatan KB non-hormonal. Seperti IUD yang juga ada yang bentuk non-hormon," jelas dr. Andrew.




