Presiden Prancis Emmanuel Macron mengkonfirmasi bahwa gelombang pertama pasukan Prancis telah tiba di Greenland untuk berpartisipasi dalam latihan militer Arktik yang dipimpin oleh Denmark. Kementerian Pertahanan Denmark menegaskan bahwa keamanan Arktik menyangkut keamanan seluruh negara NATO. Sementara itu, Amerika Serikat tetap bersikukuh pada posisinya untuk mengakuisisi Greenland, yang memicu penolakan dari pemerintah Denmark dan otoritas Greenland. Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik pun terus meningkat.
EtIndonesia. Pada Kamis (15 Januari), sebuah unit kecil militer Prancis tiba di Greenland untuk mengikuti misi pengintaian militer gabungan. Misi ini merupakan bagian dari latihan “Arctic Endurance” yang diselenggarakan oleh Denmark.
“Gelombang pertama tentara Prancis telah tiba (di Greenland), dan dalam beberapa hari ke depan akan mendapat bala bantuan melalui jalur darat, udara, dan laut,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Sehari sebelumnya, Denmark telah mengirim tambahan kekuatan militer ke Greenland. Kementerian Pertahanan Denmark menyebutkan bahwa mereka sedang berupaya membangun kemampuan pertahanan yang “lebih permanen dan berskala lebih besar” di wilayah tersebut.
Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, mengatakan: “Ini sangat penting. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan Arktik bukan hanya menyangkut Kerajaan Denmark, tetapi juga seluruh NATO.”
Ketika ditanya apakah Amerika Serikat mungkin menggunakan kekuatan militer terhadap Greenland, Menteri Pertahanan Denmark Poulsen menyebut pertanyaan tersebut sebagai sangat hipotetis (very hypothetical), dan menilai kemungkinan negara-negara NATO saling menyerang sangat kecil.
Pada saat yang sama, negara-negara seperti Jerman, Norwegia, dan Swedia juga mulai secara bertahap mengirim sejumlah kecil pasukan ke Greenland untuk mengikuti latihan militer, sebagai bentuk dukungan terhadap Denmark dalam menjaga keamanan kawasan tersebut.
Pengerahan militer ini dilakukan setelah pertemuan berisiko tinggi antara pejabat Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland pada Rabu (14 Januari). Meski pertemuan tersebut gagal menyelesaikan “perbedaan mendasar”, ketiga pihak sepakat membentuk kelompok kerja tingkat tinggi untuk melakukan konsultasi teknis secara berkala terkait rencana akuisisi Greenland.
Juru bicara Gedung Putih, Karolina Leavitt, kembali menegaskan pada Kamis bahwa prioritas utama Presiden Donald Trump adalah memperoleh Greenland, dan sikap ini tidak akan berubah karena dianggap paling sesuai dengan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.
Juru bicara Gedung Putih Leavitt mengatakan: “Saya pikir keberadaan pasukan AS di Eropa tidak akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan presiden, dan juga tidak akan mengubah tujuannya (Trump) untuk memperoleh Greenland.”
Presiden Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap tingkat pertahanan Denmark. Ia berulang kali menekankan arti strategis Greenland dan memperingatkan bahwa Tiongkok dan Rusia sedang menimbulkan ancaman keamanan di kawasan Arktik.
Sebuah laporan yang baru-baru ini dirilis oleh lembaga pemikir Berlin, Mercator Institute for China Studies (MERICS), menunjukkan bahwa persaingan geopolitik antara Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Barat dengan cepat meluas ke empat medan strategis baru, yakni wilayah kutub, luar angkasa, ruang siber, dan laut dalam. Laporan tersebut memperingatkan bahwa jika Eropa gagal merespons penataan kekuatan Tiongkok dan Rusia di Arktik, Eropa berisiko mengalami marginalisasi strategis.
Trump meyakini bahwa efektivitas militer NATO sangat bergantung pada kekuatan Amerika Serikat. Jika Greenland berada di bawah kendali AS, NATO akan menjadi lebih kuat dan lebih efektif. (Hui)
Dilaporkan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing





