REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pusat kebugaran atau gym adalah ruang publik yang unik karena menjadi tempat bertemunya berbagai individu dengan tingkat adrenalin tinggi. Namun, di balik semangat mencapai target kebugaran, ada etika tidak tertulis yang sering dilanggar.
Pakar etiket yang dikenal dengan julukan “Mister Manners”, Thomas P Farley, mengatakan anggota gym harus selalu sadar bagaimana perilaku mereka berdampak pada orang lain. "Setiap anggota harus ingat bahwa mereka adalah bagian dari sebuah komunitas," ujar Farley dikutip dari laman Huffington Post pada Senin (19/1/2026).
Baca Juga
Jenis-Jenis Introvert, Ciri, dan Saran dari Pakar Biar Enggak Gampang Stres
Suka Bunyiin Leher Saat Pegal? Dokter Ingatkan Risiko Kelumpuhan Hingga Strok
Berapa Langkah Sehari untuk Turun Berat Badan? Pakar Ungkap Durasi Paling Optimal
Untuk menjaga kenyamanan bersama, para ahli etiket membagikan beberapa perilaku tidak sopan yang harus dihindari saat berolahraga:
1. Tidak menyeka keringat di alat
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ini adalah pelanggaran paling umum. “Tidak ada yang mau duduk di bekas keringat Anda,” kata pakar etiket dan pendukung kebugaran, April Masini. Gunakan handuk atau tisu pembersih setelah selesai menggunakan mesin.
2. Tidak bengembalikan beban ke tempatnya
Membiarkan beban berserakan di lantai bukan hanya tidak sopan, tapi juga berbahaya. Presiden Mannersmith Etiquette Consulting, Jodi RR Smith, mengibaratkan hal ini seperti keterampilan taman kanak-kanak. “Jika sudah selesai bermain dengan mainanmu, simpanlah kembali,” kata Smith.
3. Menimbun mesin
Duduk diam di atas alat sambil bermain ponsel atau memonopoli satu mesin terlalu lama sangat mengganggu alur latihan orang lain.
Warga berolahraga angkat beban di Health & Strength League (HS) Fitness, Jalan Pagarsih, Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Kamis (26/1/2023). HS Fitness yang dibangun pada 1935 tersebut merupakan salah satu tempat kebugaran dan olahraga massa otot tertua di Indonesia yang ada di Kota Bandung. Hingga saat ini, HS Fitness yang memiliki tarif sebesar Rp3 ribu per orang tersebut masih memiliki pelanggan setia dari berbagai kalangan masyarakat. - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)