Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (20/1/2026). Tekanan terhadap rupiah membuat kurs semakin mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka terkoreksi 0,22% ke Rp16.772 per dolar AS hari ini. Sementara itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS atau indeks dolar AS (DXY) juga tercatat lesu dengan terkoreksi 0,34% ke level 99,05.
Di Asia, yuan China terpantau menguat 0,03%, ringgit Malaysia menguat 0,05%, dan yen Jepang juga menguat 0,04% terhadap dolar AS.
Sementara itu, mata uang dolar Hong Kong melemah 0,01%, dolar Singapura melemah 0,06%, won Korea Selatan melemah 0,35%, peso Filipina melemah 0,01%, rupee India melemah 0,05%, dan baht Thailand melemah 0,05% terhadap dolar AS.
Pelemahan rupiah pada pagi ini melanjutkan depresiasi pada perdagangan Senin (19/1/2026) di mana rupiah ditutup melemah 0,40% atau 68 poin ke level Rp16.995 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menjelaskan tekanan pada rupiah datang dari sisi internal.
Salah satunya ialah kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia mencuat setelah data menunjukkan defisit anggaran tahun lalu mendekati batas 3% PDB, sedangkan penerimaan pajak masih belum menunjukkan penguatan signifikan.
Ibrahim menjelaskan kondisi tersebut menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah.
Di sisi eksternal, meski indeks dolar AS tidak menunjukkan penguatan hari ini, ancaman tarif Presiden AS Donald Trump sebesar 10% hingga 25% terhadap negara-negara Eropa menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, telah memicu kehati-hatian para investor terhadap mata uang pasar berkembang atau emerging markets.
Di sisi lain, data pertumbuhan ekonomi China yang berada di angka 5,0% memberikan sentimen campuran. Meskipun mencapai target pemerintah, lemahnya konsumsi domestik China tetap menjadi beban bagi prospek ekspor negara-negara mitra dagang di Asia, termasuk Indonesia.
Ibrahim menyatakan bahwa menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui mekanisme DNDF maupun NDF. BI juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini.
“Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah,” pungkas Ibrahim.
Seiring dengan sentimen-sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS pada hari ini.



