Profesor Hukum Pidana Ini Bicara Gamblang Soal UGM Dituduh Melindungi Jokowi dari Isu Ijazah Palsu

fajar.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Salah satu alasan Rismon Hasiholan Sianipar menyangsikan keaslian ijazah dan skripsi dari Presiden RI ke-7 Ir. Joko Widodo sebagai lulusan UGM adalah lembar pengesahan dan sampul skripsi menggunakan font time new roman yang menurutnya belum ada di era tahun 1980-an hingga 1990-an.

Klaim sepihak Rismon dan kawan-kawan ini kemudian ditanggapi Guru Besar Hukum Pidana UGM, Marcus Priyo Gunarto.

Ia menilai tuduhan Rismon bahwa Joko Widodo telah melakukan tindakan pemalsuan ijazah dan skripsi harus bisa dibuktikan.

Marcus menguraikan, ada dua tindakan pemalsuan dalam ranah hukum pidana, yakni membuat palsu dan memalsukan.

“Membuat palsu, artinya dokumen asli tidak pernah ada namun pelaku membuat surat atau akta dalam hal ini ijazah, seolah-olah itu ada dan asli padahal sebelumnya tidak pernah ada. Itu namanya membuat palsu,” jelasnya dikutip dari situs resmi UGM, Selasa (20/1).

Kemudian, soal tindakan memalsukan, dalam hal ini ijazah atau skripsi yang dulunya pernah ada, tetapi mungkin rusak atau hilang, kemudian membuat dokumen baru seolah-olah itu adalah asli.

“Dua duanya adalah kejahatan, dan ada ancaman pidana. Ini (Rismon) tidak jelas yang dituduhkan, memalsukan atau membuat palsu,” tanyanya.

Dari kemungkinan dua tuduhan yang berpotensi dialamatkan ke Joko Widodo dan UGM dinilai Marcus sangat lemah. Pasalnya, dokumen-dokumen yang dimiliki Fakultas Kehutanan UGM memiliki banyak data pendukung yang menunjukkan bahwa Joko Widodo pernah kuliah, pernah ujian, dan pernah ikut yudisium.

“Yang bersangkutan pernah wisuda, dan ada berita acara yang menunjukkan peristiwa tersebut, maka ijazah memang pernah ada. Bisa dibuktikan dan dapat ditemukan di Fakultas Kehutanan,” tegas Marcus.

Soal bukti fisik skripsi atau ijazah menggunakan huruf time new roman atau memiliki kemiripan dengan font tersebut, kata Marcus, seharusnya Rismon tidak hanya melihat dari skripsi atau ijazah milik Joko Widodo semata namun membandingkan dengan skripsi dan ijazah dengan lulusan Fakultas Kehutanan UGM lainnya.

Bahkan membandingkan skripsi yang diterbitkan di Fakultas Kehutanan di tahun-tahun sebelum Joko Widodo Lulus.

“Apakah kemudian yang memiliki kemiripan, lalu dianggap palsu semua? Itu kesimpulan bukan seorang akademisi. Karena skripsi maupun ijazah banyak ditemukan di UGM dengan menggunakan huruf time new roman atau huruf yang hampir mirip dengannya,” paparnya.

Marcus juga menyesalkan jika masih ada pihak yang melontarkan isu dan menuduh bahwa UGM melindungi Joko Widodo terkait kepemilikan ijazah dan skripsi palsu, tuduhan tersebut dianggapnya keliru.

“Jika kemudian ada dugaan bahwa UGM melakukan perlindungan atau perbuatan seolah-olah hanya untuk kepentingan Joko Widodo, itu sangat salah dan gegabah,” kunci Marcus. (Pram/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
5 Pengeroyok Staf Humas KLH dan Wartawan di Serang Divonis 7 Bulan Penjara
• 39 menit lalukumparan.com
thumb
Tersangka kasus ijazah Jokowi, Rismon Sianipar menanggapi restorative justice Eggi Sudjana di kasus
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Kementerian Imipas Kumpulkan Rp 1,7 Miliar untuk Kebutuhan Air Bersih di Daerah Bencana
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Vale (INCO) Pacu 3 Proyek Smelter Baru, Produksi Nikel Dimulai Bertahap 2026
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
KPK Menduga Wali Kota Madiun Maidi Terima Uang dari Proyek Pakai Modus CSR
• 5 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.