- Alasan Soft Clubbing Populer di Kalangan Gen Z dan Milenial
- 1. Keinginan untuk Koneksi yang Bermakna
- 2. Kesadaran akan Wellness
- 3. Estetika dan Kurasi
Beberapa tahun lalu, hiburan malam yang ideal didefinisikan dengan lantai dansa yang padat, dentuman bass yang memekakkan telinga, serta lampu strobe yang menyilaukan hingga subuh.
Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran gelombang di kota-kota besar mengenai potret hiburan malam. Kini, sebuah tren baru bernama soft clubbing mulai mengambil alih, menawarkan cara baru untuk eksis tanpa harus mengorbankan waktu tidur atau kesehatan mental.
Soft clubbing adalah hiburan malam yang memberi jalan tengah antara nongkrong di kafe biasa dan berpesta di kelab malam. Istilah ini merujuk pada aktivitas menikmati musik kurasi DJ di sebuah bar atau lounge dengan volume yang lebih bersahabat. Fokus kegiatan ini tidak lagi pada euforia yang liar, melainkan pada kualitas atmosfer.
Alasan Soft Clubbing Populer di Kalangan Gen Z dan MilenialDalam tren soft clubbing, kalian tetap menemukan DJ, namun musik yang diputar biasanya berkisar di genre City Pop, Nu-Disco, House yang repetitif-namun-santai, hingga lo-fi beats. Tujuannya agar tetap bisa mendengar suara lawan bicara kita tanpa harus berteriak di telinga mereka.
Tren ini populer di kalangan Gen Z dan beberapa Milenial. Beberapa alasan pun mendasari para Gen Z dan Milenial memilih tren ini, termasuk pengaruh gaya hidup sehat yang sejak COVID-19 mulai dijalankan.
1. Keinginan untuk Koneksi yang BermaknaSetelah melewati masa isolasi pandemi, banyak orang menyadari bahwa mereka lebih menghargai interaksi sosial yang nyata. Di kelab malam konvensional, interaksi terbatas pada gerakan fisik. Di ruang soft clubbing, obrolan mendalam tentang karier, hubungan, hingga hobi tetap bisa terjadi di tengah alunan musik.
2. Kesadaran akan WellnessIstilah hangxiety (perasaan cemas setelah mabuk) mulai dihindari. Pengikut soft clubbing lebih memilih menikmati satu atau dua gelas cocktail berkualitas atau bahkan mocktail non-alkohol, lalu pulang sebelum jam 12 malam agar tetap bisa bangun pagi untuk berolahraga.
3. Estetika dan KurasiTempat-tempat soft clubbing biasanya memiliki desain interior yang sangat terkurasi-mulai dari pencahayaan yang hangat hingga sistem suara (sound system) yang dirancang untuk kenyamanan telinga, bukan sekadar keras. Ini menjadikannya tempat yang sempurna untuk konten media sosial yang terlihat lebih elegan dan mature.




