Pantau - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisa menilai prospek pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya seiring tren peningkatan konsumsi domestik yang konsisten.
Faisa menekankan bahwa masalah utama pertumbuhan kredit UMKM bukan dari sisi penawaran pembiayaan, melainkan permintaan terhadap barang dan jasa UMKM.
"Ketika ada penurunan suku bunga, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan injeksi likuiditas di perbankan, itu tidak serta-merta menaikkan permintaan kredit, karena masalahnya lebih banyak dari sisi demand atau permintaan," ungkap Faisa.
Tren peningkatan permintaan domestik beberapa bulan terakhir, meski tidak seluruhnya terkait produk UMKM, tetap akan membantu perbaikan penyaluran kredit, terutama dari kalangan menengah atas sebagai konsumen produk UMKM.
Faisa menekankan perlunya kebijakan fokus pada peningkatan permintaan di kalangan menengah bawah melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan, bukan hanya bantuan sosial.
Aspek pendukung lain yang perlu diperkuat termasuk pendampingan manajemen dan finansial bagi pelaku UMKM serta pemanfaatan digitalisasi untuk memperluas akses pasar.
"Kebanyakan usaha mikro masih bersifat lokal dengan pelanggan yang dekat-dekat, sehingga perlu dukungan platform digital agar bisa menjangkau pasar lebih luas," tambah Faisa.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2026 menunjukkan kredit perbankan pada November 2025 tumbuh 7,74 persen (yoy) menjadi Rp8.314,48 triliun, dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor pengangkutan dan pergudangan 18,33 persen, pengadaan listrik, gas, dan air 21,83 persen, industri pertambangan 11,0 persen, serta konstruksi 8,14 persen.
Kredit UMKM tercatat terkontraksi 0,64 persen (yoy), berbeda dengan kredit korporasi yang tumbuh 12,06 persen (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 12,03 persen (yoy) menjadi Rp9.899,07 triliun.
Rerata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun 26 basis poin (yoy) menjadi 8,97 persen pada November 2025, terutama karena penurunan suku bunga kredit produktif, mendukung prospek perbaikan pembiayaan UMKM.



