PEMERINTAH Israel mulai melakukan pembongkaran markas besar badan pengungsi Palestina milik PBB (UNRWA) di Yerusalem Timur pada Selasa waktu setempat. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari undang-undang baru yang melarang aktivitas badan PBB tersebut di wilayah Israel.
Berdasarkan rekaman yang diperoleh CNN, pasukan polisi bersama petugas Otoritas Pertanahan Israel (ILA) tiba di lokasi dengan membawa buldozer dan alat berat. Otoritas Pertanahan Israel menyatakan bahwa aparat telah "mengamankan kepemilikan penuh atas properti tersebut dan mulai membersihkan lokasi."
Reaksi Keras UNRWA dan PBBUNRWA mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai "serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap badan PBB dan fasilitasnya." Melalui unggahan di platform X, lembaga tersebut menegaskan bahwa aksi Israel mencerminkan "tingkat baru pembangkangan yang terbuka dan disengaja terhadap hukum internasional."
Baca juga : Sekjen PBB Desak Dunia Perkuat Badan Pengungsi Palestina
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak penghentian segera aksi tersebut. "Sekretaris Jenderal mendesak pemerintah Israel untuk segera menghentikan pembongkaran kompleks UNRWA Sheikh Jarrah, serta mengembalikan dan memulihkan kompleks tersebut serta bangunan UNRWA lainnya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa tanpa penundaan," ujar juru bicaranya.
Secara hukum, Konvensi PBB tentang Hak Istimewa dan Kekebalan yang diikuti Israel sejak 1949 menyatakan fasilitas PBB "tidak dapat diganggu gugat" dan kebal dari penyitaan atau campur tangan administratif maupun legislatif.
Dalih Keamanan IsraelDi sisi lain, Kementerian Luar Negeri Israel berargumen negara memiliki hak penuh atas tanah tersebut dan mengeklaim UNRWA sudah tidak lagi beroperasi di sana. "Kompleks tersebut tidak memiliki kekebalan hukum apa pun dan penyitaannya dilakukan sesuai dengan hukum Israel maupun internasional," klaim kementerian tersebut.
Baca juga : Sekjen PBB Sebut Mustahil Bubarkan UNRWA
Israel menuding UNRWA telah menjadi "rumah kaca bagi terorisme" dan mengeklaim beberapa stafnya terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober. Namun, tuduhan ini berulang kali dibantah oleh UNRWA.
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben Gvir, yang hadir langsung di lokasi, merayakan pembongkaran ini. "Ini adalah hari bersejarah, hari perayaan, dan hari penting bagi pemulihan pemerintahan di Yerusalem. Selama bertahun-tahun, para pendukung teror ini beroperasi di sini, dan hari ini mereka disingkirkan bersama semua yang mereka bangun," tegasnya.
Dampak dan Masa DepanLangkah ini memperuncing sengketa wilayah di Yerusalem Timur, yang dicaplok Israel pada 1980 namun dianggap sebagai wilayah pendudukan oleh masyarakat internasional. Otoritas Palestina menyebut pembongkaran ini sebagai "pelanggaran serius terhadap semua aturan hukum internasional" dan meminta dunia bertindak.
Selain markas di Sheikh Jarrah, properti UNRWA lainnya di kawasan Kfar ‘Aqab dilaporkan akan menghadapi proses serupa dalam waktu dekat. (CNN/Z-2)

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F07%2F16%2F13e589b050a38a196f8ee75110fb89cd-20250716TOK11.jpg)


