Detik-detik Dunia Nyaris Meledak: Telepon Netanyahu Hentikan Serangan AS, Rezim Iran di Ambang Tamat

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir mengalami eskalasi tajam dan memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak lagi sebatas perang bayangan, melainkan bergerak menuju konfrontasi terbuka dengan implikasi global.

Serangan Udara AS Dibatalkan di Detik Terakhir

Pada pekan kedua Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara mendadak membatalkan rencana serangan udara terhadap rezim Iran. Keputusan ini diambil pada saat pesawat tempur AS telah lepas landas dan bersiap melancarkan serangan, namun ditarik kembali hanya beberapa saat sebelum operasi dijalankan.

Kabar pembatalan tersebut langsung memicu kehebohan internasional. Di media sosial, Trump diserang kritik tajam, terutama oleh warganet yang menilai langkah itu sebagai tanda keraguan atau kelemahan.

Peran Netanyahu: Bukan Menolak Serangan, Tapi Menundanya

Media Barat dan Israel kemudian mengungkap fakta mengejutkan: pembatalan serangan terjadi setelah percakapan telepon langsung antara Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Langkah Netanyahu sempat memicu kebingungan. Selama ini, Israel dikenal sebagai pihak yang paling keras menentang keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Namun justru Netanyahu yang meminta Trump menghentikan serangan.

Kini, alasan di balik keputusan itu mulai terungkap.

Menurut laporan media Israel, Netanyahu menegaskan kepada Trump bahwa serangan udara terbatas tidak cukup untuk menjatuhkan rezim Iran, bahkan berpotensi membuat Teheran semakin waspada dan memperkuat pertahanan.

“Yang kami inginkan bukan sekadar serangan, tetapi penghapusan total rezim yang telah berkuasa selama 47 tahun,” demikian pesan inti Netanyahu kepada Trump.

Selain itu, pada saat itu Israel dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi serangan balasan Iran, khususnya potensi hujan rudal balistik dalam skala besar.

Israel Siap Hadapi 700 Rudal Sekaligus

Situasi berubah drastis dalam beberapa hari terakhir. Pada 20 Januari 2026, pejabat pertahanan Israel mengumumkan bahwa negara tersebut kini siap menghadapi satu gelombang serangan penuh hingga 700 rudal balistik Iran secara bersamaan.

Israel mengandalkan sistem pertahanan berlapis tiga:

Ketiga sistem ini diklaim memiliki tingkat intersepsi gabungan mendekati 90%.

Kepala industri dirgantara Israel juga mengonfirmasi bahwa pabrik senjata Israel kini beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan stok rudal pencegat berada pada level yang sangat tinggi.

Strategi Berisiko Tinggi: Menguras Seluruh Cadangan Rudal Iran

Strategi Israel tidak sekadar bertahan. Berdasarkan analisis intelijen selama bertahun-tahun, Iran diperkirakan memiliki sekitar 3.000 rudal balistik sebagai cadangan strategis terakhirnya.

Rencana Israel adalah memancing Iran mengerahkan seluruh kekuatan rudalnya dalam satu fase, menerima risiko kerusakan terbatas, namun sekaligus:

  1. Menghabiskan seluruh “modal strategis” Iran
  2. Mengungkap lokasi semua pangkalan rudal dan struktur komando
  3. Membuka jalan bagi serangan balasan pemenggalan kepemimpinan

Angka 700 rudal dipilih karena pada perang 12 hari Israel–Iran tahun lalu, Iran terbukti hanya mampu meluncurkan sedikit di atas 500 rudal di bawah tekanan ekstrem—dan mayoritas berhasil dicegat.

Gelombang Protes Iran: Faktor Penentu

Keberanian Israel juga didorong oleh kondisi internal Iran. Dalam dua pekan terakhir hingga pertengahan Januari 2026, gelombang protes rakyat dinilai telah mengguncang fondasi kekuasaan ulama hingga ke akar.

Meski status darurat dan jam malam diberlakukan, demonstrasi terus berlangsung:

Sebuah video yang beredar pada 20 Januari 2026 menunjukkan demonstran di Teheran menyergap milisi Basij bermotor dan memukuli mereka secara massal.

Media Amerika juga melaporkan bahwa Khamenei telah merekrut sekitar 5.000 milisi Irak, dijuluki “Putra 15 Menit”, untuk menekan demonstrasi—tanda bahwa aparat dalam negeri mulai kewalahan.

Retakan dari Dalam: Tokoh Reformis Ditangkap

Pada hari yang sama, Channel 14 Israel membocorkan kabar bahwa rezim Iran mengalami guncangan internal serius.

Menurut laporan intelijen:

dilaporkan ditangkap oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Zarif disebut sempat melakukan kontak rahasia dengan Reza Pahlavi selama gelombang protes berlangsung.

Penangkapan tokoh-tokoh reformis ini dipandang sebagai tanda kepanikan rezim, karena mereka sebelumnya berfungsi sebagai “peredam” ketegangan internal.

Sinyal Perang dari Washington

Pada 20 Januari 2026, sebuah fenomena tak biasa terdeteksi: pesanan pizza di sekitar Pentagon melonjak hingga 2.000%, indikator klasik aktivitas militer tingkat tinggi.

Tak lama kemudian, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino mengunggah video pasukan khusus AS menaiki V-22 Osprey, tanpa keterangan tujuan, hanya disertai peta Amerika dan simbol elang botak.

Di hari yang sama, kapal induk USS Abraham Lincoln mematikan seluruh transponder dan menghilang dari radar publik saat bergerak menuju kawasan Timur Tengah.

Bom Geopolitik Kedua: Greenland

Sementara dunia terfokus pada Iran, Trump melontarkan langkah besar lain. Pada 21 Januari 2026, dia mengumumkan telah melakukan pembicaraan “sangat baik” dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengenai Greenland, dan sepakat mengadakan pertemuan lanjutan di Davos, Swiss.

Trump menegaskan bahwa Greenland adalah kepentingan strategis yang tidak bisa ditawar, bahkan mengevaluasi dua opsi:

  1. Sewa jangka panjang 99 tahun
  2. Model Puerto Rico: kewarganegaraan AS tanpa pajak penghasilan federal

Menurut penjelasan Perdana Menteri Ceko, jalur rudal antarbenua menuju Washington melintasi Kutub Utara dan Greenland, memberikan jendela intersepsi tambahan sekitar 15 menit—krusial dalam sistem pertahanan rudal “Kubah Emas” versi Trump.

Dunia di Ambang Titik Balik

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa dunia sedang menyaksikan perjudian geopolitik terbesar dalam sejarah modern—dari potensi pergantian rezim Iran hingga redefinisi tatanan keamanan global.

Satu hal menjadi jelas: ini bukan lagi sekadar ancaman atau retorika. Sejarah sedang bergerak—dan kita berada di barisan depan untuk menyaksikannya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 21 Januari 2026, Cek Lokasinya
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Imbas Musim Hujan, Pedagang Keluhkan Stok Cabai Merah Mulai Langka di Pasar
• 3 jam laludisway.id
thumb
Kader PDIP Sebut Termul Ingin Serang Gerindra karena Dua Kadernya Terjaring OTT: Tapi Nasib Gibran Bisa Terancam
• 11 jam lalufajar.co.id
thumb
Penampakan Uang Rp2,6 Miliar dalam Karung dari OTT KPK Bupati Pati Sudewo
• 6 jam lalusuara.com
thumb
BI Siapkan Uang Tunai Ramadan-Lebaran, Layanan Penukaran Diperluas
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.