VIVA – Sikap diam Beijing terhadap laporan Pentagon yang menyebut Taiwan, Kepulauan Senkaku, dan Arunachal Pradesh sebagai kepentingan inti Tiongkok dapat dibaca sebagai bentuk persetujuan tersirat atas penilaian Departemen Perang AS tersebut. Sejumlah langkah Tiongkok belakangan ini justru semakin menegaskan akurasi penilaian Pentagon itu.
Tiongkok memang dengan cepat membantah bagian laporan Pentagon yang menyatakan bahwa Beijing berupaya menghambat perbaikan hubungan India–AS. Namun, keheningan Beijing terhadap bagian lain yang menyinggung kepentingan inti Tiongkok justru menjadi poin krusial.
Manuver agresif angkatan bersenjata Tiongkok di sekitar Taiwan, ancaman terhadap Jepang, serta klaim berulang bahwa Arunachal Pradesh merupakan wilayah Tiongkok seharusnya menjadi peringatan serius bagi negara-negara yang menjadi sasaran kebijakan agresif Beijing.
"China kemungkinan berupaya memanfaatkan penurunan ketegangan di sepanjang Garis Kontrol Aktual dengan India untuk menstabilkan hubungan bilateral dan mencegah semakin dalamnya hubungan AS-India," demikian pernyataan Departemen Perang AS kepada Kongres AS dalam laporannya tentang 'Perkembangan Militer dan Keamanan yang Melibatkan Republik Rakyat China 2025'.
Penilaian tersebut merupakan bagian dari kajian yang lebih luas mengenai kebijakan pertahanan dan strategi regional Tiongkok. Karena itu, tidak mengejutkan jika Beijing menolak tudingan bahwa mereka memanfaatkan pelonggaran ketegangan perbatasan dengan India untuk menghambat pertumbuhan hubungan AS–India.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, memang membantah satu bagian laporan Departemen Perang AS. Namun, ia memilih bungkam terkait bagian lain yang menyebut tiga "kepentingan inti" Tiongkok.
Menurut laporan Pentagon, kepentingan inti tersebut mencakup kendali Partai Komunis Tiongkok, dorongan pembangunan ekonomi nasional, serta perluasan kedaulatan dan klaim teritorial.
"Kepemimpinan Tiongkok telah memperluas istilah 'kepentingan inti' untuk mencakup Taiwan dan klaim kedaulatan Tiongkok serta sengketa teritorial di Laut Cina Selatan, Kepulauan Senkaku, dan negara bagian Arunachal Pradesh di timur laut India," demikian isi laporan Pentagon.
Tidak adanya bantahan dari otoritas Tiongkok atas pernyataan-pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai pengakuan implisit bahwa klaim AS memiliki dasar. Hal ini sekaligus memperlihatkan kecenderungan ekspansionis dalam kebijakan kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F20%2Fceb17662028d3649f224a19ff1e2a7dc-260120_buzz_aldrin.jpg)



