Jakarta, VIVA – Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di Pegunungan Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar. Pesawat bernomor registrasi PK-THT itu bukan sekadar armada penerbangan biasa, melainkan pesawat pengawas yang sedang menjalankan misi strategis negara saat kecelakaan terjadi.
Di balik insiden memilukan tersebut, tersimpan riwayat panjang sang burung besi. Data teknis dan riwyat yang dihimpun dari Planespotters, Airfleets.net dan Flightradar24, menunjukkan bahwa PK-THT adalah pesawat veteran dengan jam terbang tinggi dan aktivitas padat.
- https://indonesia-air.com/
Berdasarkan laporan Planespotters, Airfleets.net dan Flightradar24, ATR 42-500 ini diproduksi pada tahun 2000 dengan nomor seri pabrikan MSN 611. Kariernya dimulai di langit Eropa bersama maskapai regional Italia, Air Dolomiti, yang berada di bawah grup Lufthansa.
Selama hampir satu dekade, tepatnya 2001 hingga 2010, pesawat tersebut beroperasi melayani rute jarak pendek di kawasan Italia dan sekitarnya dengan registrasi I-ADLZ.
Baru pada Juli 2010, armada ini diboyong ke Indonesia dan bergabung dengan Indonesia Air Transport. Sejak saat itu, pesawat lebih banyak menjalankan penerbangan charter dan misi khusus.
Dipakai KKP untuk Misi StrategisMeski usianya sudah menginjak 25 tahun, PK-THT masih dipercaya menjalankan tugas penting. Sejak pertengahan 2025, pesawat disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP sebagai pesawat air surveillance.
Fungsinya bukan mengangkut penumpang reguler, melainkan memantau wilayah perairan Indonesia dari udara. Tugasnya meliputi pengawasan aktivitas ilegal seperti pencurian ikan, pelanggaran batas laut, hingga patroli kedaulatan maritim.
Total waktu terbangnya pun terbilang tinggi, mencapai sekitar 24.959 jam. Angka tersebut menandakan pesawat sangat aktif digunakan.
Penerbangan 24 Jam Terakhirsebelum kecelakaan, dalam kurun kurang dari 24 jam, PK-THT tercatat terbang lintas kota di Pulau Jawa sebelum akhirnya menuju Sulawesi.
Pada Jumat pagi, 16 Januari 2026, pesawat berangkat dari Bandung menuju Semarang pukul 09.26 WIB dan mendarat sekitar satu jam kemudian.
Sore harinya, pesawat kembali mengudara dari Semarang ke Yogyakarta. Penerbangan singkat ini ditempuh sekitar 30 menit. Di Yogyakarta, kru melakukan rest over night sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.




