Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), layanan keuangan digital kini menyumbang 80,5 persen angka inklusi keuangan nasional. Tren positif ini juga dirasakan oleh Amartha, fintech yang telah 16 tahun konsisten melayani segmen akar rumput.
Sejak berdiri pada 2010, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal kerja. Di tahun 2025 saja, penyaluran modal mencapai Rp13,2 triliun yang didistribusikan kepada lebih dari 3,7 juta UMKM di 50.000 desa.
Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyatakan bahwa kesuksesan ini didasari oleh pemahaman mendalam terhadap karakter masyarakat desa. "Kombinasi pemahaman market, produk yang relevan, tata kelola, dan partnership dengan institusi global menjadi fondasi Amartha untuk terus tumbuh berkelanjutan," ujar Andi dalam Media Gathering Amartha Financial di Jakarta, Jumat 22 Januari 2026.
Amartha kini telah bertransformasi menjadi penyedia layanan keuangan lengkap melalui aplikasi AmarthaFin. Dengan izin dompet digital dari Bank Indonesia, pengguna dapat menikmati berbagai layanan, seperti investasi mikro sebagai akses investasi pada masyarakat kecil dan AmarthaLink sebagai agen yang membantu masyarakat non-digital untuk melakukan pembayaran pulsa hingga cicilan.
Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menyoroti kuatnya fundamental fintech Indonesia yang berhasil menarik lebih dari 30 investor internasional. Meski pendanaan global dinamis, aliran investasi asing ke fintech tercatat mencapai USD 549 juta pada 2024.
Baca Juga :
Amartha Financial Buka Akses Keuangan Digital bagi Masyarakat DesaDirektur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai fintech menjadi solusi di tengah kontraksi penyaluran kredit perbankan untuk UMKM. "Kebutuhan permodalan masih tinggi, sehingga pinjaman daring tetap tumbuh pesat di 2026 sebagai sumber pembiayaan alternatif," jelasnya.
Namun, ekspansi masif di 2026 tetap harus diiringi mitigasi risiko terhadap gejolak geopolitik, potensi fraud, dan literasi keuangan masyarakat. Amartha sendiri berencana memperkuat pasar di luar Pulau Jawa dan segmen akar rumput melalui produk terintegrasi.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)




