Tak Hanya Dampak Alih Fungsi Lahan, Pakar ITB Ungkap Penyebab Longsor Maut Bandung Barat

viva.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Bandung, VIVA – Bencana longsor di yang menerjang Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, serta Kampung Sukadami, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 24 Januari 2026, dini hari, bukan sekadar longsor biasa dan tidak dapat hanya dipahami sebagai dampak alih fungsi lahan. 

Hal tersebut diungkapkan Pakar Geologi Longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Achmad Sadisun mengutip laman ITB, Senin, 26 Januari 2026. Ia menilai kejadian tersebut merupakan hasil dari interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia, menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu oleh kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya.

Baca Juga :
Dua Polisi Gugur Ditabrak Truk TNI di Jalur Evakuasi Longsor Bandung Barat Dapat Kenaikan Pangkat
Tim SAR Lanjutkan Pencarian 65 Korban Hilang Longsor Cisarua Bandung Barat

Menurut Imam, wilayah Kabupaten Bandung barat termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan yang relatif tebal. Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air, kerap menjadi bidang gelincirnya.

Bencana longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat
Photo :
  • ITB

Kondisi ini semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang, yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh.

"Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri," kata Imam 

Ia menambahkan bahwa pemicu longsor tidak hanya ditentukan oleh durasi hujan, melainkan juga oleh intensitasnya. Dalam ilmu kebumian dikenal hubungan antara durasi dan intensitas hujan. Hujan dengan intensitas sedang namun berlangsung lama dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi yang singkat.

Bendungan Alami Picu Longsor

Salah satu temuan penting dalam kejadian ini adalah adanya indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam). 

Akibat tertutupnya alur sungai, aliran air tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu, bersamaan dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, hingga bongkah batu. Ketika bendungan alam ini tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada. 

Dan, aliran ini, terang Imam, bukan sekadar air, melainkan aliran lumpur yang bahkan kerap mengandung bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu, yang bergerak cepat dan memiliki dampak kerusakan yang lebih dahsyat.

"Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai," ujar Imam.

Bencana tanah longsor di Cisarua Kabupaten Bandung Barat
Photo :
  • Ist

Karakter aliran semacam ini umumnya memiliki daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan aliran air biasa karena muatan sedimen yang sangat besar. Oleh karena itu, fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow) atau bahkan bisa menjadi aliran debris (debris flow).

Waspada Longsor Susulan

Hal ini pula yang dapat menjelaskan mengapa terdapat kerusakan yang parah sepanjang jalur alirannya, atau yang berada di kawasan bantaran sungai yang ada, meskipun wilayah tersebut tidak berada langsung di zona sumber longsoran.

Pakar ITB juga mengingatkan adanya potensi bahaya susulan, mengingat masih ditemukannya indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai. Jika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, akumulasi air di balik sumbatan-sumbatan tersebut berpotensi kembali jebol dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir.

Meskipun sebagian besar area terdampak berada pada zona kerentanan longsoran yang relatif rendah hingga menengah secara regional, Imam menekankan bahwa area-area tersebut, terutama lokasi permukiman, berada di sempadan sungai yang berisiko tinggi terlanda aliran lumpur dan bahkan aliran debris dari bagian hulu.

"Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah tersebut berada, tetapi bisa datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya," katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng. Selain berfungsi secara mekanik melalui perakaran yang meningkatkan kohesivitas tanah, vegetasi juga berperan secara hidrologis dengan memperlambat kejenuhan tanah oleh air hujan.

Sebagai langkah mitigasi non-struktural, Imam menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam. Salah satu indikator yang kerap diabaikan adalah menyusut atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung, yang dapat menandakan adanya sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.

"Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut saat hujan lebat, masyarakat harus waspada dan segera menjauh dari alur sungai," katanya.

Baca Juga :
Update Korban Bencana Longsor Cisarua, Pos DVI Terima 25 Kantong Jenazah
Tim SAR Serahkan 25 Kantong Jenazah Korban Longsor Cisarua ke DVI
Waspada! BMKG Prediksi Hujan Lebat Guyur lokasi Longsor Cisarua Sepekan ke Depan

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Amazon Mau PHK Lagi, 14.000 Karyawan di Divisi Ini Terancam
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Kapolri Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden Sesuai Mandat UUD 1945
• 4 jam laludisway.id
thumb
Banjir Jakarta dan Kepiawaian Pramono Anung Meredam Kemarahan Warga
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Remaja yang Hanyut di Ciliwung Diduga Tertimbun Sampah di Aliran Kali
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Profil Alwi Farhan: Juara Indonesia Masters 2026 Dalam Laga Gemilang
• 23 jam lalunarasi.tv
Berhasil disimpan.