FAJAR, MAKASSAR — Dian Aditya Ning Lestari seorang aktivis perempuan yang kini menetap di Makassar, secara terbuka mengungkap pengalaman pahit sebagai penyintas kekerasan yang dialaminya saat masih berkuliah di Jakarta.
Pengakuan tersebut disampaikannya sebagai bagian dari langkah advokasi sekaligus pendirian komunitas Girl No Abuse, sebuah inisiatif yang telah dirintis sejak 2021 dan berfokus pada pendampingan korban kekerasan terhadap perempuan.
Dian menuturkan kekerasan itu dialaminya dalam relasi personal dengan seseorang berinisial S yang merupakan teman kuliahnya kala itu.
Ia mengaku mengalami kekerasan fisik, tekanan psikologis, hingga berada dalam situasi yang membahayakan keselamatannya.
“Saya pernah dipukul, diberi obat sampai tidak sadarkan diri, bahkan hampir dijual ke orang lain, itu pengalaman yang sangat traumatis,” ujar Dian saat ditemui di Makassar.
Menurut pengakuannya, peristiwa tersebut terjadi secara bertahap dan berlangsung dalam periode tertentu selama ia tinggal di Jakarta.
Dian menyebut pada saat itu dirinya berada dalam kondisi rentan dan sulit meminta pertolongan karena tekanan mental serta rasa takut.
Ia mengatakan titik balik terjadi ketika memutuskan keluar dari situasi tersebut dan kembali ke Makassar demi menyelamatkan diri.
Kepulangan ke Makassar menjadi awal proses pemulihan yang panjang, baik secara fisik maupun psikologis.
“Pulang ke Makassar adalah keputusan untuk bertahan hidup, dari situ saya mulai memulihkan diri dan belajar berbicara,” kata Dian.
Pengalaman sebagai penyintas mendorong Dian terlibat aktif dalam isu perlindungan perempuan.
Sejak 2021, ia mengembangkan Girl No Abuse sebagai ruang aman berbasis komunitas yang menyediakan edukasi, pendampingan, dan sumber daya bagi perempuan korban kekerasan psikologis, fisik, dan seksual.
Melalui Girl No Abuse, Dian secara konsisten mengangkat isu kekerasan psikologis yang mencakup kekerasan verbal, spiritual, serta berbagai bentuk manipulasi psikis untuk mengontrol korban dan mengambil alih hidupnya.
Edukasi tersebut menyoroti praktik name-calling, penghinaan, intimidasi, dan tekanan emosional yang kerap dinormalisasi dalam relasi abusif dengan penegasan bahwa “love doesn’t hurt.”
Girl No Abuse juga memberi perhatian pada kekerasan fisik yang mencakup pemukulan, penyiksaan, pengurungan, hingga tindakan lain yang melukai tubuh korban.
Dian menilai kekerasan fisik sering kali didahului oleh kekerasan psikologis yang tidak disadari atau diabaikan oleh lingkungan sekitar.
Isu kekerasan seksual menjadi salah satu fokus utama Girl No Abuse.
Dalam materi edukasinya, komunitas ini menekankan bahwa kekerasan seksual tidak terbatas pada pemerkosaan, tetapi juga mencakup pemaksaan, pemberian obat tanpa persetujuan, ancaman seksual, eksploitasi, serta pelanggaran atas kontrol dan persetujuan tubuh korban.
Selain edukasi, Girl No Abuse juga membahas proses membangun kembali hidup pascakekerasan, termasuk kondisi penyintas yang kerap ditinggalkan tanpa pekerjaan, tanpa uang, dan tanpa sistem pendukung.
Menurut Dian, kondisi tersebut sering kali disengaja oleh pelaku agar korban sepenuhnya bergantung dan terisolasi.
Konten lain yang dikembangkan mencakup cara menghindari pelaku kekerasan, pengenalan ciri dan tanda abuser, indikasi seseorang mengalami kekerasan, serta alasan pelaku melakukan tindak kekerasan.
Girl No Abuse juga menyediakan help resources berupa rujukan lembaga bantuan hukum, pendampingan psikologis, dan saluran bantuan bagi korban kekerasan fisik maupun seksual.
Dian menegaskan keberaniannya berbicara bukan sekadar membuka luka lama, melainkan mendorong kesadaran publik bahwa kekerasan terhadap perempuan masih nyata dan sering terjadi di lingkungan terdekat.
“Saya berbagi cerita agar perempuan lain tahu bahwa mereka tidak sendirian dan selalu ada jalan untuk keluar dari kekerasan,” ujarnya.
Hingga kini, Dian menyampaikan bahwa pengakuan tersebut merupakan kesaksiannya sebagai korban.
Dipaparkan Dian, untuk perempuan Makassar korban yang membutuhkan bantuan untuk konsultasi bisa menghubungi Dian melalui link Girl No Abuse: https://carilayanan.com/listing/girl-no-abuse/.
Melalui Girl No Abuse, ia berharap masyarakat semakin peka terhadap isu kekerasan berbasis gender dan lebih aktif mendukung upaya pencegahan, pemulihan, serta perlindungan menyeluruh bagi para penyintas. (*)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5399841/original/035705900_1762014192-20251101BL_Timnas_Futsal_Indonesia_Vs_Australia_14.jpg)


