Harga Emas Tembus USD5.000, Bagaimana dengan Bitcoin?

medcom.id
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Pasar aset global menunjukkan pergerakan yang kontras. Harga emas resmi menembus level psikologis USD5.000 per troy ounce, sementara Bitcoin masih bergerak terbatas di area USD88.000. 
 
Perbedaan arah ini mencerminkan perubahan preferensi investor di tengah ketidakpastian global.
 
Menurut data Ajaib, yang dikutip pada Selasa, 27 Januari 2026, dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) mencatatkan pemulihan terbatas dengan kenaikan 1,60 persen ke level USD88.230 atau setara Rp1,47 miliar. 

Meski menguat, pergerakan BTC masih tergolong sideways dan belum menunjukkan tren kenaikan yang solid. Kapitalisasi kripto menguat Data pasar menunjukkan dominasi Bitcoin (BTC.D) berada di level 59,73 persen. Sementara itu, total kapitalisasi pasar aset kripto ikut menguat 1,95 persen menjadi USD2,95 triliun.
 
Di sisi pergerakan harian, sejumlah altcoin mencatatkan lonjakan signifikan. Axie Infinity (AXS) menjadi top gainer dengan kenaikan 35,40 persen, disusul Perpetual Protocol (PERP) yang naik 25,05 persen dan Ontology Gas (ONG) sebesar 24,75 persen.
  Baca juga: Bitcoin Terperosok saat Reli Emas & Perak
Sebaliknya, tekanan cukup dalam dialami oleh beberapa aset kripto. Taiko (TAIKO) terkoreksi 28,50 persen, DeLorean (DMC) turun 26,80 persen, dan Solar (SXP) melemah 26,45 persen. Harga emas melonjak didukung faktor global Berbeda dengan kripto, harga emas mencetak rekor baru dengan menembus USD5.000 per ounce. Kenaikan ini didorong oleh aksi pembelian masif bank sentral, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta pelemahan dolar AS.
 
Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, harga emas telah melonjak hingga 83 persen, memperkuat posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bitcoin sideways dan tertekan secara tahunan Sementara emas melesat, Bitcoin justru bergerak mendatar di kisaran USD87.000-USD88.000. Secara tahunan, BTC tercatat turun sekitar 17 persen dan telah terkoreksi 30 persen dari puncaknya di Oktober yang sempat menyentuh USD126.000.
 
Data CryptoQuant menunjukkan pemegang Bitcoin jangka panjang mulai menjual aset mereka dalam kondisi rugi untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. 
 
Pola ini kerap dikaitkan dengan fase konsolidasi pasar yang berlangsung lebih lama. Tekanan makro dan pelemahan dolar AS Dari sisi makroekonomi, tekanan terhadap aset berisiko semakin kompleks. Indeks Dolar AS (DXY) turun ke level terendah sejak 18 September. 
 
Pelemahan dolar ini dipicu oleh langkah kolaboratif Federal Reserve dan Bank of Japan yang melakukan intervensi pasar guna menopang nilai tukar Yen terhadap dolar AS.
 
Proyeksi Pergerakan Kripto Hari Ini
 
Untuk jangka pendek, Bitcoin diperkirakan bergerak di kisaran USD86.000-USD89.000. Sementara Ethereum berpotensi bergerak di rentang USD2.800-USD3.000.
 
Sejumlah altcoin juga menarik perhatian dengan potensi pergerakan jangka pendek, seiring volatilitas pasar yang masih tinggi.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Arah Indonesia di WEF 2026 Dinilai Relevan di Tengah Tantangan Global
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Lagi, Guru Dilaporkan Orangtua ke Polisi dengan Tuduhan Kekerasan Verbal
• 7 jam lalukompas.id
thumb
Pelapor Suami Boiyen Buka Potensi Bakal Bikin Laporan Tindak Pidana Baru
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Desakan Pemekaran Provinsi Luwu Raya Terus Meluas, Massa Blokade Jalan Trans Sulawesi di depan Monumen Peringatan Pertempuran Bosa di Bua
• 19 jam laluharianfajar
thumb
50 Tahun Pengabdian Iman Kardinal Suharyo
• 22 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.