Di tengah eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Selat Hormuz kembali muncul bukan sekadar sebagai jalur pelayaran, melainkan sebagai instrumen diplomasi strategis. Di wilayah inilah geopolitik, energi, dan keamanan global bertemu dalam satu simpul yang rapuh, namun sangat menentukan nasib ekonomi dunia.
Selat Hormuz adalah urat nadi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia atau lebih dari 17 juta barel per hari, mengalir melalui selat sempit ini. Setiap gangguan kecil saja sudah cukup untuk mengguncang pasar energi, memicu lonjakan harga minyak, dan menimbulkan efek domino ke seluruh sistem ekonomi global.
Sebagai negara yang memiliki posisi geografis kunci di perairan ini, Iran menyadari bahwa kekuatan sejatinya tidak semata terletak pada jumlah kapal perang atau persenjataan berat, melainkan pada kontrol strategis atas chokepoint terpenting dunia. Hormuz bagi Iran bukan sekadar selat, tetapi kartu truf geopolitik.
Dalam konteks tekanan sanksi Barat yang berlapis-lapis, ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi “senjata diplomasi” Iran. Bukan untuk benar-benar digunakan, tetapi untuk membentuk persepsi risiko. Dalam geopolitik energi, persepsi sering kali lebih berpengaruh dibanding realitas.
Penutupan total Selat Hormuz secara teoritis akan menciptakan krisis energi global. Harga minyak bisa melonjak drastis, rantai pasok terganggu, inflasi meningkat, dan stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor energi terancam. Namun justru karena dampaknya terlalu besar, opsi ini menjadi senjata terakhir yang sangat mahal secara politik.
Karena itu, Iran tampaknya memilih jalan tengah. Menjaga selat tetap terbuka, sambil sesekali menciptakan gangguan terbatas bagi lawan. Penahanan kapal, manuver militer, atau latihan angkatan laut di sekitar Hormuz berfungsi sebagai sinyal strategis, bukan sebagai deklarasi perang terbuka.
Dalam kerangka pemikiran klasik strategi, Iran tampak sangat memahami ajaran The Art of War karya Sun Tzu. Seni tertinggi dalam perang adalah menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Ancaman yang kredibel sering kali lebih efektif daripada aksi militer yang nyata.
Seperti permainan catur tingkat tinggi, Iran tidak terburu-buru mengayunkan pedang. Menunjukkan pedang, mengasahnya di hadapan lawan, dan membuat lawan terus menghitung risiko justru memberi keuntungan strategis jangka panjang. Dalam logika ini, ketegangan adalah modal, bukan kegagalan diplomasi.
Secara geografis, Selat Hormuz adalah celah sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Panjangnya sekitar 39 kilometer, dengan lebar bervariasi antara 33 hingga 95 kilometer. Karakteristik ini menjadikannya sangat rentan, sekaligus sangat mudah dipolitisasi.
Bagi negara-negara Teluk dan aktor regional lainnya, setiap serangan langsung Amerika Serikat terhadap Iran dipandang sebagai langkah berisiko tinggi. Konflik terbuka akan mengekspos kawasan pada ancaman keamanan, guncangan ekonomi, dan instabilitas politik yang sulit dikendalikan.
Iran sendiri telah lama meninggalkan doktrin pertahanan konvensional semata. Sebagai gantinya, Teheran mengembangkan pendekatan pertahanan agresif berbasis asimetri yang dikenal sebagai Ring of Fire atau Vahdat al-Sahat—persatuan berbagai front perlawanan dalam satu visi strategis.
Melalui doktrin ini, Iran mengintegrasikan jaringan proksi regional seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi ke dalam satu arsitektur konflik yang saling terhubung. Perang tidak lagi terpusat, melainkan menyebar dan simultan.
Strategi forward defense memungkinkan Iran memindahkan medan pertempuran jauh dari wilayahnya sendiri. Dengan cara ini, Teheran melindungi kedaulatan domestik sambil memaksa musuh menghadapi konflik di banyak titik sekaligus, dengan biaya politik dan ekonomi yang terus membengkak.
Transfer teknologi persenjataan, mulai dari drone, roket presisi rendah biaya, hingga sistem komunikasi, kepada para proksi menciptakan dilema keamanan serius bagi Barat. Serangan bisa datang dari berbagai arah tanpa Iran harus terlibat langsung dalam perang terbuka.
Dalam konteks Selat Hormuz, strategi ini berfungsi sebagai lapisan tekanan tambahan. Ancaman gangguan maritim, dikombinasikan dengan eskalasi regional oleh proksi, menciptakan ketidakpastian yang sulit ditangani hanya dengan kekuatan militer konvensional.
Bagi pasar energi global, ketidakpastian adalah musuh utama. Harga minyak tidak hanya bereaksi terhadap peristiwa nyata, tetapi juga terhadap ekspektasi. Di sinilah Iran memainkan peran strategisnya dengan sangat efektif, mengelola ekspektasi, bukan sekadar aksi.
Ironisnya, menjaga Selat Hormuz tetap terbuka justru memperkuat posisi tawar Iran. Dunia tahu Iran mampu menutupnya, dan justru karena tidak melakukannya, Teheran tampil sebagai aktor rasional yang memegang kendali atas eskalasi.
Pada akhirnya, Selat Hormuz bukan hanya jalur minyak, tetapi panggung diplomasi strategis abad ke-21. Di sana, Iran menunjukkan bahwa dalam geopolitik modern, kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, melainkan kemampuan membuat dunia terus waspada, tanpa satu tembakan pun dilepaskan.




